SERANG,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mencatat ada sebanyak 5.412 warganya terjangkit penyakit Tuberculosis (TBC).
Data tersebut didapat setelah Dinkes Kabupaten Serang melakukan screening terhadap 39.096 orang yang terinfeksi terjangkit penyakit TBC selama periode Januari hingga November 2024.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti mengatakan,dari total kasus TBC, paling banyak kasus positif ditemukan wilayah yang memiliki jumlah penduduk yang banyak, Seperti di di Kecamatan Ciruas.
“Di Kecamatan Ciruas ada 919 kasus, lalu di Kecamatan Kramatwatu 369 kasus serta Kecamatan petir 319 kasus,” katanya, 30 Desember 2024.
Istianah mengaku, seluruh kecamatan di Kabupaten Serang tidak ada yang terbebas dari TBC. “Kasus tersebar, seluruh kecamatan tidak ada satupun yang terbebas dari TBC. Semuanya kita temukan ada kasus TBC,” terangnya.
Ia mengatakan, penyakit TBC diakibatkan oleh infeksi dari kuman bernama mycobacterium tuberculosis yang berkembang biak kedalam tubuh manusia.
“Kalau daya tahan tubuh seseorang bagus, maka kuman akan mati karena diperangi. Kalau daya tahan tubuhnya biasa saja kuman akan berkembang tapi tidak menyebabkan penyakit. Namanya Infeksi laten TBC. Lalu kalau daya tahan tubuh rendah, kuman masuk dan menyebabkan penyakit,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, ada sejumlah gejala yang timbul ketika seseorang terkena TBC, yakni mulai dari batuk berdahak, batuk berdarah hingga muncul demam tanpa sebab. Penderita juga mengalami penurunan nafsu makan.
“Penderita akan mengalami penurunan berat badan yang signifikan dan disertai dengan sesak nafas dan nyeri dada. Lalu berkeringat di malam hari tanpa adanya aktivitas fisik,” ujarnya.
Ia mengaku ada kelompok umur tertentu yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terkena TBC, yakni mereka yang sudah lanjut usia dan anak-anak. Pasalnya daya tahan tubuh mereka rendah. “Lalu orang-orang yang tinggal di kawasan kumuh, tinggal di wilayah padat penduduk, asupan gizi kurang juga rentan terkena,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengecekan dan pengobatan untuk TBC sebenarnya masih digratiskan oleh pemerintah pusat. Namun di lapangan, masih ada masyarakat yang enggan untuk memeriksakan diri. “Saat ini masih disubsidi pemerintah, alat TCM mahal sebenarnya tapi masih gratis. Masalahnya masyarakat kita susah sekali, dia tahu di rumahnya ada yang positif TBC, tapi ketika disuruh memeriksakan diri secara aktif belum mau,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











