PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Pandeglang pada Desember 2024 menyebabkan kerugian signifikan bagi petani, dengan 654 hektar tanaman padi mengalami puso akibat terendam air. Tanaman yang rusak berusia 10-12 hari setelah ditanam, dan meskipun sempat terancam, perawatan yang baik dari petani berhasil menyelamatkan sebagian besar tanaman lainnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang, Nuridawati, mengungkapkan bahwa meskipun lebih dari 7.000 hektar tanaman padi terancam, hanya 654 hektar yang benar-benar mengalami kerusakan. “Kurang lebih seluas 654 hektar tanaman padi mengalami puso akibat terendam bencana banjir di bulan Desember 2024,” katanya saat diwawancarai RADARBANTEN.CO.ID pada Rabu, 8 Januari 2024.
Banjir yang terjadi di awal bulan Desember lalu menyebabkan ribuan hektar sawah terendam, namun kerusakan tidak meluas berkat upaya perawatan intensif dari petani. “Tanaman padi yang terancam bisa diselamatkan karena perawatan yang baik dan tidak terdorong arus deras,” jelas Nuridawati.
Petani yang terdampak puso akan mendapatkan bantuan benih dari pemerintah pusat, yang disalurkan melalui kelompok tani. Nuridawati juga menyebutkan bahwa kerugian yang ditanggung petani sangat besar. “Biaya garap dan pupuk per hektar sekitar Rp7 juta, jadi kalau dikalikan 654 hektar, kerugiannya mencapai sekitar Rp4,5 miliar,” ungkapnya.
Di Desa Idaman, Kecamatan Patia, Kepala Desa Ilman mengonfirmasi bahwa 150 hektar tanaman padi terendam banjir dan mengalami puso. Namun, para petani langsung kembali menanam setelah lahan mereka dipulihkan. “Petani sudah menanam lagi sebelum bantuan benih diterima. Sekarang tanaman mereka sudah subur lagi,” katanya.
Ilman berharap tidak ada bencana banjir susulan agar tanaman padi yang baru ditanam dapat tumbuh dengan baik. “Setelah banjir, petani langsung menggarap lagi dan semoga saja tidak ada lagi bencana banjir susulan,” tuturnya.
Editor : Merwanda











