SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Wayang kulit itu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Julukan karya agung warisan budaya lisan dan tak benda kemanusiaan ini disematkan setelah UNESCO mengakui wayang kulit sebagai salah satu budaya asli Indonesia pada 7 Desember 2003.
Pengakuan UNESCO tak lepas dari sejarah wayang kulit.
Wayang berasal dari kata “ma hyang”. Artinya, menuju pada roh spiritual, dewa, atau Tuhan yang Maha Esa.
Namun, ada juga yang mengartikan wayang sebagai istilah bahasa Jawa yang memiliki makna “bayangan”. Itu karena penonton wayang kulit bisa melihat bayangannya dari belakang kelir.
Memang belum ada angka pasti untuk menentukan waktu pementasan wayang kulit dilakukan. Namun, dari catatan tertua yang telah ditemukan, wayang kulit diperkirakan sudah dipentaskan sejak abad ke-9.
Perkiraan pementasan wayang kulit itu berdasarkan naskah Prasasti Kuti bertarikh 840 Masehi.
Wayang kulit kemudian berkembang pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Pada masa ini, wayang kulit dijadikan sarana untuk menyebarluaskan agama, selain cerita-cerita epik.
Wayang kulit terus berkembang ketika pengaruh Islam masuk ke Jawa. Seperti pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Sunan Kalijaga pun menggunakan wayang kulit sebagai alat dakwah.
Salah satu anggota Walisongo itu menggunakan wayang kulit menyebarkan agama Islam.
Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said menggunakan wayang kulit sebagai sarana dakwah karena menjadi bagian dari budaya Jawa. Dan, begitu digemari oleh masyarakat Jawa.
Untuk memasukkan ajaran Islam, Sunan Kalijaga memodifikasi cerita wayang sesuai ajaran Islam dan memodifikasi bahan material wayang kulit, serta menambahkan karakter baru seperti Punakawan.
Penggunaan wayang kulit sebagai alat propaganda juga digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa revolusi.
Untuk menyebarkan faham komunis, PKI pernah menggelar wayang kulit dengan lakon “Matine Gusti Allah (Matinya Tuhan)”.
Pergelaran wayang kulit oleh PKI itu menimbullan kontroversi. Perseteruan kelompok PKI dan Islam meruncing.
Seluruh umat Islam, termasuk Persyarikatan Muhammadiyah, memprotes PKI.
Persyarikatan Muhammadiyah pun menggelar wayang kulit tandinga. Lakonnya, “Matinya Iblis (Matinya Iblis)”.
Saat ini, wayang kulit masih dipentaskan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, wayang kulit umumnya menjadi suguhan hoburan bagi para tamu undangan sebuah hajatan.
Teranyar, wayang kulit dipentaskan oleh Mabes Polri pada Jumat malam, 4 Juli 2025, untuk menyambut HUT ke-79 Bhayangkara.
Editor: Agus Priwandono















