LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Rendahnya tingkat pendidikan di Kabupaten Lebak dinilai menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda, khususnya Generasi Z. Kondisi ini dinilai dapat memperdalam ketimpangan sosial dan menghambat peran Gen Z sebagai tulang punggung pembangunan Indonesia 2045.
Dedi Wisma, seorang pemuda pemerhati pendidikan di Lebak, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya partisipasi pendidikan di daerah tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lebak tahun 2022, sebanyak 45,93 persen warga usia 15 tahun ke atas hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar (SD), sementara 19,95 persen berhenti di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). “Angka ini mencerminkan rendahnya partisipasi pendidikan menengah dan tinggi di kalangan masyarakat Lebak,” ujar Dedi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu, 6 Juli 2025.
Menurutnya, persoalan pendidikan di Lebak bukan semata karena faktor ekonomi, tetapi juga karena minimnya akses pendidikan yang merata, lingkungan sosial yang kurang mendukung, serta pola pikir yang belum terbentuk untuk mendorong generasi pembelajar. “Kami sering menemukan anak muda di Lebak merasa takut tertinggal dari dunia luar. Perkembangan teknologi dan zaman begitu cepat, sementara akses mereka untuk berkembang sangat terbatas,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Dedi menekankan pentingnya kehadiran ruang belajar dan wadah kolaboratif yang inklusif—bukan hanya untuk mendukung prestasi akademik, tetapi juga dalam hal pengembangan soft skill dan pembentukan pola pikir visioner. “Saya percaya bahwa setiap anak muda punya potensi. Tapi mereka perlu disentuh, dibimbing, dan diajak berdiskusi tentang masa depan mereka,” tambah Dedi.
Lebih jauh, ia mengajak generasi muda untuk mulai melakukan perubahan dari diri sendiri sebagai langkah awal menuju masa depan yang lebih baik.
“Perubahan dimulai dengan peduli terhadap diri sendiri. Maka ketika ingin merubah masa depan, harus didorong dengan keinginan dan semangat yang tinggi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” pungkasnya.
Editor : Merwanda











