PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID–Mendaki gunung kini bukan lagi sekadar aktivitas pecinta alam, tapi mulai bergeser jadi tren anak muda.
Di Gunung Pulosari, Pandeglang, Banten, misalnya, banyak pendaki datang bukan karena cinta alam, melainkan demi konten media sosial.
Volunteer pendakian Gunung Pulosari sekaligus anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Asep Rahman, menyebut mayoritas pendaki datang hanya untuk ikut-ikutan.
“Ya, sekitar 60 persen pendaki Gunung Pulosari itu datang karena FOMO (Fear of Missing Out). Hanya ingin terlihat keren di media sosial, bukan karena paham esensi naik gunung,” kata Asep Rahmat kepada radarbanten.co.id, Senin 21 Juli 2025.
Menurut Asep, sah-sah saja naik gunung karena FOMO, asalkan tetap punya bekal pengetahuan dan persiapan fisik serta mental yang cukup.
“FOMO nggak masalah, asal fomo-nya teredukasi. Wisata gunung itu beda dengan wisata biasa. Perlu fisik, mental, dan persiapan matang,” ujarnya.
Asep menambahkan, mendaki gunung memiliki banyak manfaat dan tidak memandang latar belakang atau gender.
“Di gunung itu semua sama. Jalurnya sama, tantangannya sama. Dan bonusnya, kita bisa menikmati panorama hijau yang menyehatkan mata,” tuturnya.
Gunung Pulosari sendiri dikenal sebagai destinasi “anak senja” karena menawarkan pemandangan sunset yang indah.
“Gunung Pulosari itu cocok buat lihat sunset, bukan sunrise. Jadi yang mau nikmatin senja harus nge-camp, karena kalau tektok (naik turun dalam sehari) nggak bakal ketemu sunset-nya,” jelasnya.
Namun sayangnya, mayoritas pendaki memilih jalur tektok dibanding bermalam di gunung.
“Pendaki di sini sekitar 80 persen tektok, sisanya baru yang nge-camp atau menginap,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











