CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kerugian besar yang kembali dialami PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mendapat sorotan tajam dari pengamat ekonomi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Hadi Sutjipto. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan persoalan mendalam dalam struktur biaya dan tata kelola perusahaan.
Hadi turut menyoroti struktur organisasi Krakatau Steel yang dinilai masih gemuk, termasuk banyaknya anak perusahaan yang perlu dievaluasi kontribusinya.
“Restrukturisasi utang perlu dilanjutkan. Aset-aset tidak produktif harus dipangkas. Fokus pada bisnis inti baja,” ungkap Hadi saat dikonfirmasi, Minggu, 27 Juli 2025.
Ia juga mengkritik sistem remunerasi manajemen yang dinilai tidak mencerminkan kinerja perusahaan.
“Ada ketimpangan persepsi publik, perusahaan rugi, tapi gaji direksi dan komisaris tetap tinggi. Kalau gaji direksi Rp 90 juta, total bisa miliaran. Harus ada rasionalisasi kompensasi,” tandasnya.
Menurut Hadi, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pengawasan dan kemauan politik pemerintah dalam mendorong efisiensi di tubuh BUMN.
“Jangan sampai kerugian seperti ini jadi beban negara yang dibiarkan terus-menerus. Jika tidak ada perubahan signifikan, ini bukti kegagalan manajemen,” katanya.
Lebih lanjut, Hadi menjelaskan bahwa meskipun pendapatan Krakatau Steel naik 3,6 persen, namun kerugian bersih perusahaan justru mencapai USD 105 juta.
“Pendapatan memang naik 3,6 persen, tapi kerugian bersih mencapai USD 105 juta. Ini menunjukkan lonjakan kerugian sebesar 75,6 persen lebih dari tahun lalu,” tambahnya.
Ia menilai, tekanan pada laba kotor disebabkan oleh kenaikan beban yang signifikan, yang mencerminkan persoalan pada efisiensi produksi dan struktur harga pokok penjualan.
“Ini masalah fundamental, baik dalam efisiensi maupun tata kelola,” tambahnya.
Hadi juga menyoroti kerugian operasional yang meningkat dari tahun sebelumnya.
“Artinya, inti bisnisnya sendiri belum mampu menopang beban keuangan,” katanya.
Editor: Agus Priwandono











