CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID–Korban kekerasan seksual di Kota Cilegon yang tercatat mencapai 81 korban sepanjang tahun 2025 menjadi perhatian serius Korps HMI-Wati (Kohati) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon.
Organisasi perempuan itu mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon agar memasukkan materi pencegahan kekerasan seksual ke dalam kurikulum pendidikan di semua jenjang sekolah.
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Cilegon, Dian Novitasari, mengatakan bahwa pendidikan pencegahan kekerasan seksual seharusnya tidak hanya dilakukan dengan sosialisasi semata.
Dian menilai kegiatan sosialisasi yang sering kali dilaksanakan berbagai instansi masih kurang efektif, karena keterbatasan peserta dan waktu. Maka menjadikan materi pencegahan kekeresan seksual ke pendidikan adalah solusi progresif.
“Kasus 81 korban ini bukan sekadar angka, tapi alarm bahwa pendidikan kita belum menyentuh akar masalah. Anak-anak, terutama perempuan, masih banyak yang tidak tahu bagaimana melindungi diri dan kemana harus melapor ketika mengalami kekerasan,” kata Dian kepada Radar Banten, Jumat 17 Oktober 2025.
Menurutnya, kurikulum pendidikan di Cilegon perlu mengintegrasikan materi perlindungan anak dan perempuan, termasuk soal etika pergaulan, kesadaran batas tubuh (body boundaries), hingga cara melapor bila mengalami kekerasan.
“Kami menilai perlu ada muatan lokal atau modul wajib yang membahas pencegahan kekerasan seksual. Tidak harus berat, cukup disesuaikan dengan usia siswa agar mereka paham dan berani bicara,” ujarnya.
Dian menilai, angka kekerasan seksual yang cukup tinggi menandakan masih lemahnya sistem edukasi dan sosialisasi di lingkungan pendidikan.
Ia mendorong Pemkot Cilegon, Dinas Pendidikan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) untuk duduk bersama merancang integrasi kebijakan tersebut.
“Kohati mendorong agar Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Pendidikan dapat berkoordinasi dengan Kemendikbudristek untuk mengintegrasikan edukasi pencegahan kekerasan seksual ke dalam muatan lokal atau kegiatan pembelajaran di sekolah,” tegasnya.
Selain mendorong kebijakan pendidikan, Kohati juga berencana menggelar kampanye kesadaran publik bertajuk “Sekolah Aman Tanpa Kekerasan” dengan melibatkan pelajar dan komunitas kampus.
“Kami ingin perempuan dan anak-anak di Cilegon tumbuh dengan rasa aman. Edukasi adalah benteng pertama yang harus dibangun,” pungkasnya.
Reporter : Adam Fadillah
Editor: Agung S Pambudi











