LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Aroma durian kembali menyeruak di kawasan pegunungan Kendeng, wilayah adat Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Di musim panen seperti saat ini, wisata ke Baduy tak hanya menikmati trekking dan adatnya, tetapi juga sensasi mencicipi durian lokal khas pedalaman.
Jalur setapak menuju perkampungan Baduy Luar dan Baduy Dalam, Minggu 7 Desember 2025 deretan durian tampak dijajakan di bale-bale bambu.
Bentuknya tak terlalu besar namun aromanya kuat, seolah menjadi undangan bagi wisatawan untuk sejenak berhenti mencicipi.
Fani wisatawan dari Bogor, mengaku menikmati momen makan durian bersama rombongannya. Ia datang kedua kalinya ke Baduy untuk kembali merasakan suasana panen langsung di kampung adat tersebut.
“Kemarin kan ada yang ngajak ya. Dia bilangnya lagi musim durian. Soalnya enggak banyak kalau seandainya banyak mungkin kita beli bawa pulang,” ujarnya kepada RADARBANTEN.CO.ID saat berada di Baduy, Minggu 7 Desember 2025.
Menurut Fani, durian Baduy punya karakter tersendiri yang membuatnya rindu kembali. Ia membandingkan dengan kunjungan sebelumnya yang dinilai lebih ramai panen.
“Waktu itu lebih ramai ya, lebih besar ya. Itu duriannya, sebenarnya manis rasanya. Mungkin bedanya kalau kayak durian Medan ya warnanya agak sedikit kuning terus lebih lembek gitu ya. Rasanya beda,” katanya.
Fani menambahkan, ketenangan dan keasrian alam Baduy menjadi alasan lain ia kembali. “Kan suasananya enak, udaranya segar. Kampungnya masih terjagalah alamnya, airnya juga itu sungainya masih biru,” jelasnya.
Salah satu pedagang durian, Edi, menyebut wisatawan datang dari berbagai daerah untuk berburu durian lokal Baduy. “Dari Jakarta, Bandung, Tangerang, banyak yang cari,” ujarnya.
Namun, musim durian kali ini menurutnya tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Cuaca ekstrem membuat hasil panen menurun dan harga naik. “Durennya lagi sedikit soalnya kebanyakan hujan. Makanya harga agak tinggi,” pungkasnya.
Editor Bayu Mulyana











