SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Warga Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang mengeluhkan kondisi jalan Bojonegara-Puloampel yang mengalami kemacetan parah sejak awal tahun 2026.
Pasalnya, banyak kendaraan tambang yang masuk ke Bojonegara-Pulomampel, bahkan mereka melintas diluar jam operasional yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni.
Warga Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Ibnu, mengatakan saat ini, banyak kendaraan truk tambang yang melintas diluar jam operasional yang sudah ditetapkan. Akibatnya, kemacetan panjang pun terjadi dan mengganggu aktifitas warga.
“Kemacetan semakin parah karena banyak lalu lalang kendaraan truk. Ditambah lagi banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan dan adanya perbaikan jalan, jadi semakin susah melintas,” katanya, Minggu 15 Februari 2026.
Ibnu menuturkan, sebelum pergantian tahun, suasana di Jalan Raya Bojonegara-Puloampel sempat terasa mulai membaik. Tidak ada kepadatan kendaraan, truk-truk mematuhi aturan jam operasional yang telah ditetapkan sehingga aktivitas masyarakat tak terganggu.
Namun kini, semenjak awal Januari, volume kendaraan truk disebut Ibnu semakin banyak. Bahkan, truk-truk tambang tersebut tak lagi mengindahkan aturan jam operasional yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Banten, Andra Soni.
Akibatnya, lebar jalan yang kecil akhirnya tidak mampu menampung volume kendaraan yang sangat banyak.
“Macetnya sangat parah. Bisa berjam-jam dijalan, apalagi kalau pas jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari pasti ga bakal bisa jalan. Dampaknya, karyawan yang akan berangkat kerja akhirnya memilih masuk ke jalan pintas,” terangnya.
Kondisi ini tentunya memberikan masalah baru bagi warga Bojonegara dan Puloampel. Pasalnya, kemacetan tidak hanya dirasakan di jalan utama saja, melainkan juga di jalan-jalan perkampungan akibat banyaknya pekerja yang memilih melalui jalan pintas.
“Karena kecil kan jalan pintas kecil, ditambah banyaknya kendaraan akhirnya macet juga,” ujarnya.
Selain karena kemacetan, perjalanan juga terasa sangat melelahkan bagi Ibnu karena debu yang terbawa kendaraan tambang bergerak liar diudara. Ini selain mengganggu pandangan juga mengancam kesehatan bagi pengendara maupun warga sekitar.
Ditambah lagi, banyaknya pasir dan kerikil yang berjatuhan dari kendaraan tambang di jalan raya memberikan ancaman baru bagi pengendara. Pasalnya, dengan banyaknya kerikil, membuat jalan menjadi licin dan sulit untuk dilalui.
Kini, harapan Ibnu dan para warga Bojonegara dan Puloampel sama, yakni adanya ketegasan dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan ini.
Mereka berharap, agar aturan jam operasional bisa kembali diteggakan sehingga warga bisa kembali merasakan kenyamanan. Mereka pun berharap agar adanya sanksi satgas yang diberikan bagi kendaraan tambang yang melanggar.
Editor Daru











