SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Isu banjir yang belum sepenuhnya tertangani, pemangkasan dana transfer pusat, hingga angka kemiskinan yang masih berada di level 5,51 persen menjadi sorotan terhadap kinerja Pemerintah Kota Serang di awal tahun kepemimpinan.
Berbagai tantangan tersebut dinilai menguji konsistensi realisasi 13 program unggulan yang telah dicanangkan oleh pasangan Budi Rustandi dan Nur Agis Aulia.
Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia memastikan roda pemerintahan tetap berjalan sesuai rencana.
Ia mengatakan, meski menghadapi tekanan fiskal dan persoalan klasik perkotaan, Pemkot Serang tetap optimistis seluruh program prioritas dapat direalisasikan secara bertahap dan terukur.
Terkait banjir yang dinilai belum tertangani optimal, terutama persoalan drainase, Agis menyebut pemerintahan saat ini lebih siap dan responsif dibanding sebelumnya.
“Kalau dibandingkan sebelumnya, sekarang kita jauh lebih sigap, lebih siap, dan lebih taktis dalam penanganan banjir,” ujarnya, Rabu, 18 Februari 2026.
Ia menjelaskan, saat ini Pemkot tengah melakukan revitalisasi drainase serta perbaikan infrastruktur pendukung lainnya.
Selain itu, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat terus dilakukan untuk penanganan menyeluruh.
“Memang belum langsung kelihatan karena ini masih proses. Kita baru revitalisasi dan perbaikan drainase. Tapi semuanya sudah on the track,” katanya.
Agis juga menanggapi pemotongan dana transfer pusat. Dia memastikan hal itu tidak akan mengganggu realisasi 13 program unggulan.
Pemkot, kata dia, melakukan inovasi pembiayaan melalui skema di luar APBN dan APBD.
“Bagi kita itu tidak bermasalah. Kita melakukan inovasi dan kreativitas dengan mencari sumber dana lain seperti CSR dan pendanaan lain yang sesuai ketentuan,” katanya.
Ia menyebut, seluruh 13 program unggulan sudah berjalan, meski dengan progres yang berbeda-beda. Beberapa program bahkan sudah masif, seperti Serang Mengaji dan penataan sejumlah kawasan.
“Semua program sudah berjalan. Ada yang memang sudah masif, ada yang masih tahap awal, tapi semuanya dalam proses,” jelasnya.
Berdasarkan data terbaru, angka kemiskinan Kota Serang tercatat 5,51 persen dengan pendapatan per kapita sekitar Rp586.000 per bulan. Menurut Agis, penanganan kemiskinan membutuhkan langkah komprehensif dan terukur.
Ia mengatakan, Pemkot mulai memetakan program konkret, salah satunya memastikan program MBG hadir di seluruh kelurahan untuk menekan stunting sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Dengan MBG dan Koperasi Merah Putih, kita yakin ekonomi bergerak, lapangan kerja tercipta, dan pendapatan masyarakat meningkat. Goal-nya tentu penurunan angka kemiskinan,” ujarnya.
Pemkot Serang juga membentuk satgas khusus untuk mengawal program MBG, Koperasi Merah Putih, serta pengembangan pusat-pusat ekonomi baru seperti kawasan Royal Baroe dan pembangunan stadion yang sedang berproses.
“Royal Baroe sudah kita bangun, tinggal diisi aktivitas ekonomi dan event supaya ada pergerakan UMKM dan penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Agis menilai, tahun pertama kepemimpinan bersama Wali Kota Budi Rustandi difokuskan pada pembangunan fondasi, mulai dari infrastruktur, penanganan sampah dan banjir, hingga penguatan ekonomi.
“Kalau saya pribadi, ini sudah optimal dan maksimal. Di tengah pemotongan dana transfer, kita tetap membangun. Itu luar biasa,” ucapnya.
Memasuki tahun kedua, Pemkot akan lebih fokus pada peningkatan kemanfaatan langsung bagi masyarakat, seperti program seragam gratis, beasiswa, pasar murah, serta optimalisasi penyerapan tenaga kerja melalui kolaborasi UMKM.
“Tahun kedua ini menyempurnakan apa yang sudah dibangun di tahun pertama. Fondasinya sudah kita siapkan, sekarang kita optimalkan manfaatnya untuk masyarakat,” katanya.
Editor: Bayu Mulyana











