CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Jumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Cilegon mencapai sekitar 18.278 unit usaha pada 2025.
Namun, sebagian besar masih berada pada level usaha mikro sehingga membutuhkan strategi serius agar bisa berkembang menjadi usaha kecil dan menengah.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Cilegon Rahmatulloh dalam Forum Perangkat Daerah di Aula Setda Kota Cilegon pada Rabu 11 Maret 2026.
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Kota Cilegon, komposisi pelaku usaha di daerah tersebut masih sangat didominasi usaha mikro.
Rahmatulloh menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen pelaku usaha di Kota Cilegon masih berada pada level usaha mikro.
Karena itu, tantangan pembangunan ekonomi daerah saat ini adalah bagaimana mendorong transformasi usaha mikro agar dapat naik kelas menjadi usaha kecil maupun menengah.
Menurutnya, struktur ekonomi daerah yang sehat harus memiliki tiga pilar utama, yaitu industri besar, usaha menengah, serta UMKM yang kuat.
“Cilegon memiliki kekuatan pada sektor industri besar karena merupakan kawasan industri strategis nasional. Namun tantangan kita adalah bagaimana ekonomi rakyat bisa terhubung dengan industri tersebut,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan ekonomi daerah tidak cukup hanya berfokus pada menarik investasi industri besar, tetapi juga memastikan UMKM lokal masuk ke dalam rantai nilai industri.
Jika hal tersebut dapat terwujud, kata dia, maka akan tercipta multiplier effect ekonomi yang jauh lebih besar bagi masyarakat Kota Cilegon.
Dalam kerangka pembangunan lima tahun ke depan, Rahmatulloh menilai program UMKM Naik Kelas yang menjadi agenda pembangunan daerah harus dijalankan secara serius.
Program tersebut, lanjutnya, tidak hanya sekadar slogan, tetapi harus menjadi transformasi struktural ekonomi daerah.
“UMKM naik kelas berarti ada peningkatan legalitas usaha, kapasitas produksi, akses pembiayaan, hingga akses pasar,” ujarnya.
Reporter : Adam Fadillah
Editor: Agung S Pambudi











