Idul Adha 1447 Hijriyah ini terasa berbeda bagi saya. Tahun ini saya tidak berkumpul di rumah orangtua. Emak sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Karena itu, saya lebih banyak berada di lingkungan rumah. Menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban di Mushola Al Ikhlas, Griya Permata Asri, Kota Serang.
Musholanya tidak besar. Sederhana saja. Tapi jumlah hewan kurbannya cukup banyak. Delapan ekor sapi dan 17 ekor domba.
Untuk ukuran mushola lingkungan, itu bukan jumlah sedikit.
Artinya pekerjaan panitia juga tidak ringan. Dari penyembelihan, pengulitan, pemisahan daging dan tulang, pemotongan kecil-kecil, penimbangan, pengemasan, sampai pembagian kepada warga.
Saya melihat sendiri bagaimana warga bekerja sejak pagi. Sebagian terlihat lelah. Bajunya basah oleh keringat. Tangan belepotan darah dan lemak. Tapi wajah mereka tetap terlihat ringan.
Ceria. Bahkan sesekali terdengar candaan.
Lelah, tapi bahagia.
Yang menarik justru bukan soal jumlah hewan kurbannya. Tapi bagaimana semua pekerjaan itu bisa selesai dengan baik, padahal tidak semua warga ahli memotong daging.
Tidak semua mahir menguliti sapi. Tidak semua terbiasa memotong tulang. Tidak semua paham cara memisahkan bagian daging.
Tapi pekerjaan tetap berjalan.
Dari situ saya merasa, kadang kita bisa belajar banyak justru dari lingkup kecil yang sering dianggap biasa.
Saya melihat satu hal penting: warga percaya kepada panitia dan pengurus DKM.
Kepercayaan itu ternyata melahirkan energi bersama.
Warga menyerahkan hewan kurbannya ke mushola. Menyerahkan pengelolaannya kepada panitia. Lalu warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
Ada yang memotong daging. Ada yang mengangkat tulang. Ada yang membungkus. Ada yang menimbang. Ada yang membagikan kupon. Ada yang membersihkan terpal.

Semua bergerak.
Tidak ada yang sibuk ingin terlihat paling penting.
Tidak ada yang memaksa mengerjakan sesuatu yang memang tidak ia kuasai.
Rasanya tidak ada warga yang tiba-tiba ingin menguliti sapi padahal jelas-jelas tidak bisa mengulitinya.
Mereka sadar posisi. Sadar kemampuan. Sadar peran.
Dan justru karena itu pekerjaan besar menjadi terasa ringan.
Pekerjaan besar ternyata tidak selalu membutuhkan orang-orang hebat. Kadang cukup orang-orang biasa yang mau bekerja tanpa sibuk merasa paling penting.
Saya juga melihat hal lain yang menarik.
Di lapangan, teguran itu ada. Koreksi juga ada.
Misalnya saat ada potongan daging besar yang hampir diletakkan di alas terpal yang kurang bersih. Pasti langsung ada yang spontan berteriak mengingatkan dari jauh. Kadang nadanya keras karena situasi memang ramai dan harus cepat.
Tapi yang diingatkan tidak tersinggung.
Tidak marah.
Tidak merasa direndahkan.
Karena semua tahu tujuan akhirnya sama: agar daging kurban tetap bersih dan layak dibagikan.
Di situ, kritik sebenarnya tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang justru lahir dari rasa memiliki.
Orang mau menegur karena peduli.
Dan orang mau menerima teguran karena sadar sedang bekerja untuk tujuan bersama.
Mungkin itu yang mulai jarang kita temukan hari-hari ini.
Kita sering terlalu sibuk mempertahankan ego dibanding menyelesaikan pekerjaan.
Sedikit dikritik langsung tersinggung. Sedikit diingatkan langsung merasa dijatuhkan.
Padahal dalam kerja bersama, yang paling penting bukan siapa paling hebat. Tapi siapa mau ikut menyelesaikan masalah.
Dari panitia kurban, saya juga belajar soal kepemimpinan.
Bahwa kepemimpinan bukan sekadar banyak bicara di depan. Bukan sekadar memberi instruksi.
Kepemimpinan adalah menghadirkan kepercayaan.
Ketika warga percaya kepada pimpinan atau panitia, orang akan bergerak dengan kesadaran sendiri. Tidak perlu terus dipaksa. Tidak perlu terus diawasi.
Orang akan ikut aktif mewujudkan apa yang sudah disepakati bersama.
Mau membantu. Mau gotong royong. Mau menjaga target bersama.
Karena merasa menjadi bagian dari pekerjaan itu.
Dan mungkin memang begitu seharusnya sebuah komunitas berjalan.
Bukan saling menjatuhkan. Tapi saling menopang.
Bukan sibuk mencari kesalahan orang lain. Tapi sibuk memastikan pekerjaan bersama selesai dengan baik.
Kadang pelajaran kepemimpinan memang tidak selalu lahir dari ruang seminar, buku teori, atau pidato besar.
Kadang justru lahir dari halaman mushola kecil. Dari tangan-tangan warga yang memotong daging kurban sambil menahan lelah. Dari orang-orang biasa yang bekerja tanpa merasa paling penting.
Dan dari sana kita belajar, bahwa kerja bersama hanya bisa berjalan jika ada kepercayaan. (*)










