Tanggal 6 sampai 10 Juli, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-23 Provinsi Banten digelar. Pada hari pertama, saya membaca dua berita. Pelantikan 42 dewan hakim dan pembukaan MTQ.
Yang menarik perhatian saya bukan siapa yang hadir. Bukan pula kemeriahan acaranya. Melainkan kalimat-kalimat yang diucapkan.
Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah berpesan agar para dewan hakim amanah dan jujur.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa para hakim akan bekerja secara profesional dan berintegritas.
Setelah pelantikan, 42 dewan hakim mengucapkan sumpah. Saya membaca kalimat itu dua kali. Entah kenapa, saya justru membayangkan menjadi salah satu dari 42 hakim di ruangan itu.

Mampukah saya mengucapkan sumpah yang sama, lalu menjaganya sampai MTQ selesai?
Mereka berjanji menjaga netralitas, menjunjung tinggi profesionalisme, serta tidak akan memberikan janji, menerima, ataupun memberi sesuatu yang dapat memengaruhi hasil penilaian.
Kalimatnya sederhana. Tetapi berat. Sebab sumpah bukan dibuat untuk menguji Alquran. Sumpah dibuat untuk menguji manusia yang memegangnya.
Saya membacanya sekali lagi. Lalu muncul satu pertanyaan.
Mengapa bahkan di ruang yang begitu dekat dengan Alquran, manusia masih merasa perlu mengikat dirinya dengan sumpah?
Ini bukan perlombaan biasa. Yang diperlombakan bukan kecepatan berlari, bukan ketepatan menendang bola, bukan pula keindahan bernyanyi. Yang diperlombakan adalah tilawah, tahfiz, qiraat, tafsir, fahmil, syarhil, kaligrafi, hingga karya tulis ilmiah Alquran. Semuanya bersumber dari kitab suci yang sama.
Semakin saya memikirkannya, saya justru merasa persoalannya bukan di situ. Bukan karena kita tidak percaya kepada para hakim. Justru sebaliknya.
Mungkin memang begitulah manusia. Semakin besar amanahnya, semakin besar pula ujiannya. Bahkan ketika ia sedang berdiri di dekat sesuatu yang suci.
Renungan saya kemudian berlanjut saat membaca pidato Gubernur Banten Andra Soni pada pembukaan MTQ.
Di pembukaan MTQ, Gubernur Andra Soni menyampaikan satu kalimat yang menurut saya jauh lebih besar daripada perlombaan itu sendiri. MTQ jangan berhenti sebagai kompetisi tahunan. MTQ harus menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat Qurani. Masyarakat yang gemar membaca Alquran, memahami kandungannya, mengamalkan nilai-nilainya, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Saya justru merasa, inilah inti MTQ. Bukan siapa yang menang. Melainkan apa yang dibawa pulang setelah perlombaan selesai. Sebab panggung MTQ hanya berdiri beberapa hari. Tetapi masyarakat Qurani dibangun setiap hari.
Di rumah. Di sekolah. Di kantor. Di pasar. Di ruang rapat. Di media sosial. Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat kita.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah nilai-nilai yang diucapkan dalam sumpah para hakim sudah menjadi sumpah yang tidak pernah saya ucapkan, tetapi saya jalankan? Sudahkah saya bersikap netral ketika harus mengambil keputusan? Sudahkah saya menolak kepentingan yang mencoba memengaruhi penilaian?
Sudahkah saya profesional ketika tidak ada seorang pun yang melihat? Sudahkah saya melakukan apa yang selama ini saya ucapkan kepada orang lain?
Barangkali, justru pertanyaan-pertanyaan itulah oleh-oleh paling berharga dari sebuah MTQ. Sebab yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya para peserta. Bukan hanya dewan hakim. Melainkan kita semua. Karena Alquran tidak sedang berlomba menjadi lebih mulia. Yang sedang berlomba adalah manusia, agar hidupnya semakin dekat dengan nilai-nilai yang diajarkannya.
Dan mungkin, di situlah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan ketika piala diangkat di atas panggung. Melainkan ketika nilai-nilai Alquran masih hidup, bahkan setelah panggung MTQ tidak lagi berdiri. (*)







