Kabupaten Lebak sebenarnya tidak kekurangan modal untuk maju. Modalnya bahkan berlimpah. Ada pantai, gunung, hutan, perkebunan, pertanian, dan kekayaan budaya yang sulit dicari tandingannya. Di Lebak pula masyarakat adat Baduy hidup dengan aturan yang tetap dijaga turun-temurun.
Daerah lain mungkin harus mengeluarkan banyak uang untuk menciptakan ikon wisata. Lebak tidak perlu. Nama Baduy sudah dikenal ke mana-mana.
Lebak juga bukan hanya Baduy. Ada Kasepuhan Cisungsang, Cisitu, Citorek, Cibarani, Ciromong, dan Kasepuhan Cicarucub. Setiap tahun mereka menggelar upacara adat yang dapat menjadi daya tarik wisatawan.
Wisata alamnya juga bukan hanya pantai. Di Cikuya, Kecamatan Cibeber, ada perkebunan teh dengan udara pegunungan yang dingin. Daerah lain di Banten tidak punya. Mau ke pantai, ada. Mau mencari udara dingin, ada. Mau melihat kehidupan masyarakat adat, juga ada.
Hari Minggu, 19 Juli lalu, saya bersama Ketua IKA Unila Banten Tabrani dan sejumlah pengurus diajak Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah mengunjungi Kawasan Agrowisata Cikapek.
Amir tidak sekadar mengajak jalan-jalan. Ia membawa kami melihat langsung Cikapek, lalu membuka percakapan mengenai kerja sama pemanfaatan lahan untuk pertanian, peternakan, dan kegiatan wisata.
Di sana kami bertukar gagasan. Membicarakan apa yang bisa dilakukan, siapa yang mungkin terlibat, dan bagaimana kawasan itu dapat tumbuh.
Cara seperti ini kelihatannya sederhana. Padahal, tidak banyak kepala daerah atau wakil kepala daerah yang mau melakukannya.
Amir tidak cukup hanya mengatakan bahwa daerahnya terbuka untuk investasi. Ia membawa orang langsung ke lokasi. Membiarkan calon mitra melihat tanahnya, merasakan udaranya, menilai jalannya, lalu membicarakan kemungkinan usaha di tempat itu.
Di Cikapek, Amir tidak terlihat seperti pejabat yang sedang membacakan potensi daerah. Ia lebih mirip orang pemasaran yang sedang meyakinkan calon mitra.
Dari Rangkasbitung, perjalanan menuju Cikapek membutuhkan waktu sekira 35 menit. Jalannya cukup baik. Lebarnya cukup untuk dua truk berpapasan. Sebagian sudah beraspal, sebagian lagi menggunakan beton.
Memang ada beberapa titik yang rusak. Jalannya juga banyak berkelok, dengan tanjakan dan turunan yang tidak terlalu curam. Namun, kendaraan roda empat masih dapat melintas dengan nyaman.
Selepas permukiman warga, rumah semakin jarang. Kanan dan kiri jalan dipenuhi pepohonan. Beberapa kilometer menjelang lokasi, kami melewati kawasan hutan milik Perhutani.
Kalau kelak jalannya diperbaiki, perjalanan menuju Cikapek dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. Orang tidak hanya menikmati tempat yang dituju, tetapi juga perjalanan menuju ke sana.
Kawasan Agrowisata Cikapek memiliki luas sekira 52 hektare. Lahan itu berasal dari hak guna usaha yang masa berlakunya telah berakhir.
Menurut Amir, sejak dua tahun lalu lahan tersebut resmi menjadi milik Pemerintah Kabupaten Lebak. Sertifikatnya sudah ada.
Pemkab Lebak juga telah membangun area parkir, masjid, dan restoran. Luas bagian yang sudah ditata sekitar 1,8 hektare. Sekira 10 hektare direncanakan untuk pengembangan Fakultas Kedokteran Untirta. Selebihnya masih berupa lahan yang menunggu dihidupkan.
Kawasan itu dibagi menjadi beberapa zona. Ada zona pendidikan, investasi, agribisnis, dan peternakan.
Yang menarik justru tawaran Pemkab Lebak kepada pihak yang ingin mengelolanya. IKA Unila Banten termasuk yang ditawari. “Kami menyiapkan lahannya saja. Tidak perlu sewa,” kata Amir.
Saya sempat memastikan kembali.
Tidak perlu sewa?
Menurut Amir, memang begitu. Pihak yang berminat dipersilakan datang membawa konsep, kemampuan, dan investasinya. Hitung-hitungan dengan pemerintah dibicarakan setelah usaha berjalan dan menghasilkan.
Ini bukan cara yang lazim. Pemerintah biasanya ingin mendapatkan bagian di depan. Sewa harus dibayar. Retribusi dihitung. Kontribusi diminta. Padahal, usaha belum dibangun, pohon belum ditanam, ternak belum dipelihara, dan pengunjung belum tentu datang.
Pemkab Lebak mengambil jalan berbeda. Lahannya dipersilakan dipakai lebih dahulu. Kelola. Hidupkan. Hasilkan. Setelah itu, baru dibicarakan pembagian yang wajar. Bahkan sebelum pemerintah memperoleh bagian, pembangunan dan pengelolaan kawasan sudah dapat membuka lapangan kerja.
Pola ini sedikit mengingatkan saya pada Vietnam, yang memberikan pembebasan biaya sewa lahan untuk investasi tertentu. Tidak sama persis, tentu. Namun, semangatnya serupa. Pemerintah ikut mengurangi beban pada masa awal usaha.
Tawaran itu memang menggiurkan. Tanahnya luas. Statusnya jelas. Fasilitas awal tersedia. Sewa pun tidak diminta. Namun, investor tetap akan menghitung akses, keamanan, biaya operasional, kepastian kerja sama, dan keuntungan yang mungkin diperoleh.
Untungnya, Cikapek tidak sepenuhnya memulai dari nol. Kawasan itu dirancang sebagai rest area terpadu sekaligus gerbang wisata resmi menuju Baduy. Dari Cikapek ke kawasan adat Baduy, perjalanan membutuhkan waktu sekira 25 menit.
Wisatawan dapat singgah lebih dahulu. Beristirahat, salat, makan, membeli produk lokal, atau mendapatkan informasi sebelum melanjutkan perjalanan.
Di Cikapek juga direncanakan pembangunan miniatur Baduy. Gagasannya menarik, asalkan tidak berhenti menjadi latar untuk berfoto.
Baduy bukan hanya rumah panggung, pakaian hitam dan putih, atau jembatan bambu. Baduy adalah masyarakat adat dengan aturan dan hubungan khusus dengan alam.
Pasar wisata Cikapek sebenarnya sudah tersedia. Menurut Amir, tahun lalu kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lebak mencapai lebih dari satu juta orang. Sekira 120 ribu di antaranya tercatat mengunjungi Baduy.
“Ini yang dicatat. Saya yakin banyak juga yang tidak tercatat,” ujarnya.
Saya juga yakin. Tidak semua wisatawan datang melalui rombongan resmi. Banyak yang datang bersama keluarga, teman, atau komunitas kecil. Angka 120 ribu saja sudah besar. Mereka adalah calon pengunjung pertama Cikapek.
Tantangannya tinggal membuat mereka mau berhenti. Rest area biasanya hanya menjadi tempat ke toilet, membeli minuman, lalu melanjutkan perjalanan. Kalau Cikapek ingin menjadi kawasan wisata, harus ada alasan agar orang tinggal lebih lama.
Bisa karena makanannya. Kegiatan pertanian dan peternakannya. Produk masyarakat. Pertunjukan budaya. Wisata edukasi. Camping. Atau glamping.
Amir mengatakan jalan menuju kawasan itu akan ditingkatkan. Jalur Cikapek direncanakan menjadi akses utama kendaraan menuju Baduy. Sementara jalur lama digunakan untuk kendaraan besar atau truk angkutan barang.
Rencana itu masuk akal. Pariwisata memerlukan akses yang mudah. Orang dapat tertarik setelah melihat foto sebuah tempat, lalu membatalkan perjalanan setelah mendengar jalannya rusak.
Namun, membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan memperbaiki jalan dan mengundang investor.
Warga sekitar harus ikut tumbuh. Warung mereka harus hidup. Hasil pertanian dan peternakan harus terserap. Anak muda setempat harus mendapat pekerjaan. Masyarakat dapat menjadi pemandu, membuka penginapan, menjual makanan, menghasilkan kerajinan, atau mengelola kegiatan wisata.
Kalau kawasan tumbuh, tetapi warga hanya kebagian debu, macet, dan sampah, berarti ada yang salah. Karena itu, langkah Amir Hamzah dan Pemkab Lebak membuka lahan tanpa sewa patut diapresiasi. Setidaknya, Lebak sedang mencoba cara yang tidak biasa.
Tentu, cara baru itu tetap membutuhkan aturan yang jelas. Jangan sampai orang sudah menanam modal, tetapi belakangan bingung dengan perjanjiannya. Jangan pula masyarakat sekitar hanya menjadi penonton.
Sekarang tinggal siapa yang berani masuk dan menghidupkannya. Sebab, lahan 52 hektare tetap hanya akan menjadi tanah luas kalau gagasannya berhenti di ruang rapat. Lebak tidak kekurangan modal.
Alamnya ada. Budayanya ada. Lahannya tersedia. Pasar wisatanya pun sudah datang lebih dahulu.
Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi daftar panjang potensi.
Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mau menghidupkannya. (*)









