SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Realisasi investasi Provinsi Banten pada Semester I 2026 mencapai Rp66,3 triliun atau tumbuh 9,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp60,7 triliun. Capaian ini memperkuat posisi Banten sebagai salah satu tujuan investasi unggulan di Indonesia sekaligus menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten, realisasi tersebut telah mencapai 46,63 persen dari target investasi tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp142,19 triliun.
Kepala DPMPTSP Provinsi Banten, Virgojanti, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga iklim investasi yang kondusif.
“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan bahwa Banten menjadi salah satu tujuan investasi yang kondusif. Karena itu, kondisi ini perlu terus kita pertahankan dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif, nyaman, dan aman bagi investor,” ujar Virgojanti, Rabu, 29 Juli 2026.
Pada Triwulan II 2026, investasi di Banten mencapai Rp31,9 triliun atau meningkat 7,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi dengan nilai Rp18,87 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp13,02 triliun.
Meski demikian, PMA justru mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 35,63 persen secara tahunan. Jepang menjadi negara dengan nilai investasi terbesar di Banten, yakni Rp2,96 triliun, disusul Singapura sebesar Rp2,59 triliun dan Tiongkok Rp2,39 triliun.
Menurut Virgojanti, tingginya minat investor menunjukkan bahwa Banten masih memiliki daya saing yang kuat. Selain didukung letak geografis yang strategis, Banten juga memiliki kawasan industri, infrastruktur yang terus berkembang, serta kedekatan dengan pasar nasional.
Pemprov Banten juga terus mendorong pemerataan investasi ke wilayah selatan. Kehadiran Jalan Tol Serang-Panimbang dinilai membuka peluang baru bagi Kabupaten Lebak dan Pandeglang untuk menarik investasi berskala besar.
“Yang penting jangan sampai penuh di sini, ditolak, lalu lari ke provinsi lain. Kalau ada investor yang perlu lahan lebih luas, bicara ke saya, nanti kita undang teman dari selatan,” kata Virgojanti.
Selain pemerataan wilayah, Pemprov Banten juga memperkuat strategi hilirisasi industri. Pada Triwulan II 2026, investasi sektor hilirisasi mencapai Rp6,48 triliun yang mencakup sektor perkebunan dan kehutanan, mineral dan batuan, minyak dan gas, serta perikanan dan kelautan.
“Kita tidak ingin menjual bahan setengah jadi ke luar. Banten memang sudah menjadi pusat industri berbahan baku migas. Ada industri polimer dan biji plastik yang bisa mendorong aktivitas ekonomi turunan lainnya,” ujarnya.
Virgojanti berharap pelaku usaha lokal dapat memanfaatkan peluang dari berkembangnya industri hilir sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dari sisi ketenagakerjaan, realisasi investasi pada Triwulan II 2026 mampu menyerap 57.522 tenaga kerja dari 39.477 proyek yang terealisasi di berbagai daerah di Provinsi Banten.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, optimistis pertumbuhan ekonomi Banten tetap terjaga sepanjang 2026. Setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,64 persen pada Triwulan I, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Banten akan tumbuh pada kisaran 5,1 hingga 5,5 persen hingga akhir tahun.
“Jadi kita masih optimistis, terlebih kalau konsumsi tetap stabil dan daya beli masyarakat bisa kita pertahankan,” kata Sofwan.
Ia menambahkan, inflasi yang tetap terkendali menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Dipadukan dengan pertumbuhan investasi yang positif, kondisi tersebut diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi Banten hingga akhir 2026.*
Editor : Krisna Widi Aria









