SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang memastikan seluruh biaya pengobatan warga yang menjadi korban keributan pada final turnamen sepak bola tingkat RT di Kelurahan Pancalaksana, Kecamatan Curug, ditanggung pemerintah daerah.
Wali Kota Serang Budi Rustandi mengatakan, keputusan tersebut diambil untuk membantu korban yang mengalami luka serius dan berasal dari keluarga kurang mampu.
Budi turun langsung menjenguk korban yang saat itu menjalani perawatan di RSUD dr. Dradjat Prawiranegara (RSDP), Senin, 14 September 2026.
Menurut Budi, korban membutuhkan tindakan medis dengan peralatan yang belum tersedia di RSDP. Oleh karena itu, Pemkot Serang mengambil langkah untuk merujuk korban ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih memadai.
“Pemerintah akan membantu penuh. Pasien ditangani di Rumah Sakit (RS) Hermina karena alat di sini tidak memadai,” kata Budi.
Budi menambahkan, dirinya telah berkomunikasi langsung dengan pihak RS Hermina agar korban dapat segera memperoleh penanganan medis.
“Saya sudah berkomunikasi langsung dengan pihak RS Hermina agar segera ditangani,” ujarnya.
Selain menanggung biaya pengobatan, Pemkot Serang juga memberikan bantuan uang tunai kepada keluarga korban. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan kebutuhan keluarga selama mendampingi korban menjalani perawatan.
Budi juga meminta dinas terkait mengawal proses administrasi rujukan korban dari RSDP hingga mendapatkan penanganan di RS Hermina.
Keributan yang menyebabkan warga terluka itu terjadi saat pertandingan final turnamen sepak bola di Lapangan Rajawela, Kampung Pasirhuni.
Budi berharap korban segera mendapatkan perawatan yang dibutuhkan sehingga kondisinya dapat berangsur membaik.
Di sisi lain, Budi meminta persoalan yang memicu keributan antarkampung tersebut diselesaikan melalui musyawarah dan kekeluargaan. Ia berharap kejadian itu tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan maupun persoalan hukum.
Menurut Budi, pertandingan olahraga di lingkungan masyarakat semestinya menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mencari bibit atlet, bukan menjadi sumber perselisihan.
“Olahraga itu bertujuan mencari kebersamaan dan silaturahmi, bukan sekadar mengejar kemenangan,” katanya.
Ia juga mengingatkan para pendukung tim agar tidak memaksakan kehendak yang dapat memicu kesalahpahaman dan keributan.
“Jangan sampai karena memaksakan dukungannya harus menang, timbul miskomunikasi yang akhirnya memicu keributan antarpenonton,” tuturnya.
Editor: Mastur Huda















