CILEGON – Persoalan sampah merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi Pemkot Cilegon. Setiap hari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon menangani 400 ton sampah yang harus diangkut ke TPSA Bagendung. Masalah sampah ini menjadi salah satu penyebab gagalnya Kota Cilegon meraih Piala Adipura.
Kepala DLH Kota Cilegon Ujang Iing tidak menampik bila masalah penumpukan sampah di beberapa titik di Kota Cilegon menjadi salah satu penyebab gagalnya Kota Baja meraih Adipura. “Adipura kan yang dinilai ada beberapa spot, ya. Di antaranya sekolah, stasiun, terminal, dan pasar. Kita yang rawannya, kalahnya itu di pasar. Yaitu tentang pengelolaan sampah di pasar. Sampah di pasar itu numpuk di mana-mana bahkan sampai memenuhi saluran irigasi. Ini yang menjadi kendala kita gagal meraih Adipura. Memang sampah menjadi masalah serius bagi kami saat ini,” kata Ujang saat ditemui di sela-sela acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Kota Cilegon di halaman kantor Setda Kota Cilegon, Rabu (12/9) pagi.
Ujang menambahkan, salah satu upaya yang akan dilakukan pihaknya untuk menekan penumpukan sampah di Kota Cilegon adalah dengan memberdayakan bank-bank sampah untuk memilah sampah agar bisa diolah. “Seperti sampah plastik, sekarang kan bisa jadi campuran aspal. Kita akan berdayakan bank-bank sampah agar sebelum diangkut ke TPSA, sampah yang bisa dimanfaatkan agar dipisah,” imbuhnya.
Penanganan sampah memang susah tapi masih bisa diatasi bila ada niat langsung dari masyarakat. “Misalnya, belanja ke pasar tidak usah beli plastik, bawa tas dari rumah. Selain itu kami akan mencoba dari internal pemerintahan dengan membuat imbauan kepada seluruh OPD di Pemkot Cilegon agar di setiap kegiatan tidak menimbulkan banyak sampah. Kemudian kami juga akan membuat surat kepada masyarakat melalui camat, lurah, dan RT/RW agar di setiap kegiatan masyarakat tidak menimbulkan banyak sampah,” tutur Ujang.
Pelaksana Harian (Plh) Sekda Kota Cilegon Ratu Ati Marliati menyatakan, masalah sampah di Kota Cilegon bukan masalah instansi terkait atau stakeholder saja, tapi juga masyarakat. “Sampah sudah menjadi masalah kita semua. Sebagai contoh, penumpukan sampah di Pasar Baru Kranggot menjadi salah satu masalah serius Pemkot Cilegon. Itu bukan salah OPD terkait, tapi kesadaran masyarakat yang menumpuk sampah sembarangan dan bahkan membuang ke dalam saluran irigasi. Yang buang sampah di sana (Pasar Baru Kranggot) bukan masyarakat Cilegon saja, ada juga orang dari luar Cilegon yang mencari usaha di sana (Pasar Kranggot-red). Untuk itu perlu peran serta semua pihak,” ucapnya. (Andre AP/RBG)









