SERANG – Angka inflasi Banten (0,34%) yang berada di atas rata-rata nasional (0,31%) perlu mendapat perhatian serius di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi saat ini. Apalagi, inflasi yang terjadi lebih disebabkan naiknya harga-harga kelompok bahan makanan.
Kenaikan harga-harga kolompok bahan makanan ini memicu meningkatnya angka indeks harga konsumen (IHK) Banten, dari 145,97 pada Juni menjadi 146,47 pada Juli atau terjadi perubahan indeks inflasi sebesar 0,34 persen. Semua kelompok pengeluaran yang ada mengalami kenaikan indeks, yaitu berturut-turut kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami kenaikan sebesar 1,33 persen; kelompok sandang naik sebesar 0,49 persen; kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,41 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik sebesar 0,24 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,23 persen; kelompok kesehatan naik sebesar 0,14 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 0,05 persen.
Meski angka pertumbuhan ekonomi Banten sebesar 5,35 persen masih terbilang baik lantaran berada di atas rata-rata nasional sebesar 5,05 persen, tapi jika laju inflasi tak bisa dikendalikan maka akan berdampak lebih buruk terhadap perekonomian regional Banten yang melambat saat ini.
Demikian diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo saat acara pengukuhan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indoenesia Provinsi Banten di aula Surosowan Lantai IV Kantor Perwakilan Bank Indonesia Banten, kemarin. “Banten sudah baik, yang jadi masalah inflasi kita di atas nasional. Kalau kita bisa perbaiki, ini akan meningkatkan daya beli masyarakat,” ungkapnya.
Dalam acara yang dihadiri para pimpinan daerah Provinsi Banten tersebut, ia pun memaparkan strategi pemerintah dalam menekan laju inflasi. Terutama instruksi Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memimpin rapat koordinasi nasional pengendalian inflasi 2019 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Kamis (25/7) lalu. “Instruksi Wapres waktu itu salah satunya intensifkan pembangunan infrastruktur pertanian, ini karena (terjadinya) inflasi pangan,” katanya.
Tak hanya itu, perlunya meningkatkan pertumbuhan usaha mikro kecil menengah (UMKM) pun menjadi hal penting guna peningkatan perekonomian regional. “Karena salah satu yang dapat membuka lapangan kerja UMKM. Apalagi UMKM yang go ekspor,” ujarnya. (del-skn/air/ags)










