Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM, M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Ibadah Haji
Ibadah haji adalah jihad. Karenanya, mempersiapkan layanan terbaik bagi penyelenggaraan ibadah haji juga termasuk bagian dari jihad. Jemaah haji adalah duta Allah. Karenanya, menjadi tugas bersama untuk menghormati dan melayani jemaah haji. Tak terasa musim haji kembali tiba. Para tamu Allah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Semua ibadah dalam Islam dimaksudkan untuk meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Tetapi ibadah haji memiliki karakter yang unik dan berbeda dalam membentuk ketakwaan dalam diri seorang muslim. Ibadah haji selain merupakan ibadah ritual yang mencakup berbagai kegiatan fisik dan spiritual, juga merupakan aktivitas ekonomi yang membutuhkan kapasitas finansial yang relatif besar.
Dengan demikian ketakwaan yang diharapkan muncul dari ibadah haji bukan hanya ketakwaan dalam bentuk ucapan, prilaku, dan perbuatan tertentu yang bermuara pada kesalehan individual. Tapi juga kearifan dalam pengelolaan sumber-sumber dan potensi ekonomi yang dimiliki sebagai bentuk sikap tanggung jawab dan kesalehan sosial.
Al-Qur’an telah memaklumkan bahwa seluruh aktivitas ibadah bertujuan membina dan merealisasikan ketakwaan dalam diri seorang hamba. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 21:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Semua ibadah mulai dari salat, zakat, puasa sampai haji akan bernilai efektif jika memunculkan ketakwaan dalam pribadi seseorang. Aspek ritual dalam ibadah haji bukan satu-satunya aspek yang dapat membina ketakwaan. Dalam haji seorang muslim diuji bagaimana nilai-nilai ketakqwaan diterapkan ketika seseorang dalam kondisi memiliki kekayaan dan kelapangan rizki.
ubungan antara kekayaan dan ketaqwaan dalam ibadah haji erat sekali. Bahkan sebelum seseorang pergi melaksanakan perjalanan haji, Al-Qur’an memberikan arahan bagi setiap muslim agar mempersiapkan bekal. Alquran menyebutkan dua jenis bekal; bekal materi dan bekal ketakwaan.
Rangkaian ibadah haji memberikan gambaran miniatur ajaran Islam yang tidak memosisikan dunia selalu berlawanan dengan akhirat. Haji memberikan gambaran praktis bagaimana dunia difungsikan sebagai tangga menuju keridaan Allah dan jembatan menuju kehidupan akhirat. Karena itu berbagai akitivitas keduniaan tidak mengganggu kesucian ibadah selama rukun dan kewajiban haji ditunaikan secara baik.
Momentum haji adalah momen yang paling sering kita melakukan takbir di dalamnya. Dalam ibadah haji kita dianjurkan untuk sesering mungkin menyatakan secara lantang tentang kebesaran Allah. Apa pun yang kita lakukan dan keuntungan apa pun yang kita dapatkan, hanyalah kemurahan kecil dari Allah Yang Maha Besar.
Betapa pun kita membicarakan tentang manfaat ekonomi yang tersimpan dalam ibadah haji, tetap saja yang lebih penting dari itu adalah sejauh mana hal itu semua memberikan penguatan kepada keimanan kita. Keberkahan dalam hidup adalah hal yang didambakan setiap umat Islam. Hidup yang penuh berkah akan mendapat limpahan kebaikan dan petunjuk dari Allah SWT.











