SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dampak kekeringan di Kota Serang semakin meluas. Sebanyak 2.308 kepala keluarga mengalami krisis air bersih.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang, saat ini sudah di 27 lokasi yang terdampak kekeringan. Terparah terjadi di Kecamatan Kasemen yang mengalami krisis air bersih.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Serang Diat Hermawan mengatakan, pihaknya sudah mendistribusikan air bersih ke 27 titik wilayah Kota Serang. Dari 27 titik tersebut, terhitung sudah 150.000 liter air bersih yang terdistribusikan.
“Total yang terdampak kekeringan ada sekitar 3.408 jiwa dan 2.308 KK. Itu tersebar di beberapa wilayah kecamatan, terutama Kasemen. Pengiriman air yang sudah kami distribusikan di 27 titik sebanyak 150.000 liter,” ujarnya, Kamis 7 September 2023.
Diat menjelaskan, wilayah yang paling terdampak kekeringan terjadi di Kecamatan Kasemen. Seperti di Kelurahan Margaluyu, Mesjid Priyai, Kilasah, Terumbu, dan Kelurahan Bendung, hingga Kelurahan Sawah Luhur.
“Memang rata-rata, yang kekeringan paling banyak ada di Kecamatan Kasemen,” katanya.
Berdasarkan data daerah terdampak kekeringan, lanjut Diat, Kelurahan Cibendung Taktakan sebanyak 342 jiwa dari 120 KK. Kemudian Kecamatan Walantaka, Kelurahan Teritih, khususnya di kompleks Persada Banten di dua blok perumahan sebanyak 450 KK atau sekitar 600 rumah yang terdampak kekeringan.
“Kalau totalnya, ada sekitar 1.231 rumah yang terdampak. Untuk di Kecamatan Walantaka dan Taktakan saat ini berdasarkan data, baru satu kelurahan yang mengalami kondisi kekeringan atau krisis air bersih. Kami distribusikan air 10 ribu liter, dan lima ribu liter di Taktakan,” ucapnya.
Sebelumnya, BPBD Kota Serang sudah mengirimkan surat kepada Walikota Serang terkait kondisi Kota Serang saat ini.
“Saya sudah bersurat ke Pak Wali. Sementara masih menunggu arahan dari beliau. Sekarang ini statusnya menuju siaga darurat,” katanya.
Diketahui, status siaga darurat yaitu suatu keadaan ketika potensi ancaman bencana sudah mengarah pada terjadinya bencana, ditandai dengan adanya informasi peningkatan ancaman berdasarkan sistem peringatan dini yang diberlakukan dan pertimbangan dampak yang akan terjadi di masyarakat.
Menurut Diat, status siaga darurat akan dikeluarkan dengan melihat beberapa parameter yang sudah terjadi.
“Pertama adanya rekomendasi ancaman dari BMKG, kedua data dampak baik itu kekeringan, kekurangan air maupun data orang penyakit akibat kekurangan air,” katanya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor : Aas Arbi











