SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Lahan sawah seluas 100 hektare lebih di Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, dinyatakan mengalami puso. Kondisi ini akibat banjir.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Yuli Saputra mengatakan, pihaknya sudah melakukan monitoring terhadap lahan pertanian di tiga kecamatan di Kabupaten Serang yang terdampak banjir beberapa waktu lalu.
“Kopo luasan 25 hektare, Pamarayan 15 hektare, dan di Kecamatan Tunjung Teja luasan 170 hektare. Ini kategorinya terkena, artinya tanaman padi di sawah tergenang oleh air,” katanya, Selasa, 7 April 2024.
Dari total 210 hektare lahan yang terendam banjir, 100 hektare lebih lahan pertanian sudah dinyatakan mengalami puso yang tersebar di empat desa di Kecamatan Tunjung Teja. Empat desa tersebut ialah Desa Kemuning, Tunjung Teja, Bojong Menteng, dan Pancaregang.
“Dari 170 hektare, pusonya itu sudah lebih mencapai 100 hektare yang dinyatakan oleh PUPT setempat,” tegasnya.
Pihaknya mengaku masih melakukan identifikasi lanjutan terkait kondisi tanaman padi di wilayah tersebut. Hal itu dilakukan lantaran adanya potensi bertambahnya jumlah lahan yang mengalami puso.
“Mayoritas yang mengalami puso itu di usia 45 HST KHari Setelah Tanam). Tapi ada juga yang berada di usia 100 hari, dimana kondisi padinya sudah berkecambah, bahkan banyak juga yang sudah membusuk. Total sudah terendam banjir selama lima hari,” tegasnya.
Guna meminimalisir kerugian dari para petani yang mengalami puso, pihaknya akan mengajukan bantuan kepada Dinas Pertanian Provinsi Banten untuk melakukan pergantian benih untuk puso.
“Akan kita identifikasi terlebih dahulu, merek masuk kelompok yang mana, lalu berapa hektare yang sudah masuk AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi), sehingga nanti bisa di back up oleh AUTP juga,” pungkasnya.
Selain yang mengalami puso, dampak banjir yang terjadi di tiga kecamatan tersebut menyebabkan hasil panen padi mengalami penurunan kualitas. Khususnya, untuk padi yang sudah berusia lebih dari 90 hari setelah tanam.
“Di Kopo bahkan ada tanaman padi yang sudah terpotong dan tergerus banjir, jumlahnya sekitar 3-4 karung yang hanyut. Yang di Pamarayan, di Desa Damping, tidak ada yang puso, tapi tanaman padi yang sudah usia 90-102 hari, saat dipanen mengalami penurunan kualitas, dan tentu kualitasnya juga menurun. Harusnya 6-7 ton per hektare, dengan adanya banjir dia hanya 3-4 ton,” tegasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











