PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kapal MV. Felya terdampar di Pantai Kajeletan, Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang. Kapal kargo ini terdampar akibat kerusakan pada seal propeller pada 4 Desember 2024 lalu.
Kapal MV Felya disebut milik PT. Anugrah Makmur Sejahtera yang dinakhodai Gustaf Sumolang.
Kapal MV. Felya merupakan kapal kargo yang tengah berlayar dari Dumai menuju PT Cemindo Gemilang, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
Namun, belum juga sampai di dermaga PT Cemindo Gemilang, kapal mengalami kerusakan seal propeller sehingga terdampar di Pantai Kajeletan.
Insiden itu bermula pada 1 Desember 2024, saat kapal berlabuh di perairan Ujung Kulon dengan kedalaman 30 meter, menunggu tugboat untuk menarik kapal ke Pelabuhan Merak guna perbaikan kebocoran pada as propeller.
Namun, angin barat kencang dengan kekuatan 35-40 knot menyebabkan kapal mengalami pitching.
Pada pukul 19.00 WIB, nakhoda mendapati kapal mulai hanyut berdasarkan pengamatan radar dan GPS. Segera, seluruh kru dikerahkan untuk melego jangkar kanan agar kapal berhenti hanyut.
Kapal kandas setelah cuaca ekstrem
pada 4 Desember 2024, cuaca semakin memburuk dengan angin barat mencapai kecepatan tinggi dan ombak setinggi 3-4 meter. Kapal kembali hanyut dan akhirnya kandas di perairan Ujung Kulon.
Nelayan Warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu Kacut mengatakan, terdamparnya kapal besar itu sudah lama.
“Sudah ada satu bulan. Kapal itu memiliki nama lambung Felya,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID melalui sambungan telepon selularnya, Senin, 13 Januari 2025.
Kacut menjelaskan, dari informasi diterima olehnya kapal Felya merupakan jenis kapal kargo. Biasa mengangkut muatan semen dari PT Cemindo Gemilang, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
“Jadi kapal itu tengah melakukan perjalanan berlayar menuju Bayah. Namun kandas dan terdampar di tepi pantai di Desa Rancapinang,” katanya.
Kandasnya kapal kargo itu karena terjadi masalah pada baling-baling. Ditambah kondisi cuaca buruk.
“Saat itu tengah terjadi gelombang tinggi. Sehingga mengakibatkan kapal itu terombang-ambing dan kandas,” katanya.
Kades Rancapinang Epan Kusmana mengatakan, kapal yang kandas itu secara wilayah memang masuk Desa Rancapinang.
“Tapi kalau titik lokasi terdampar itu berada dalam area Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon,” katanya.
Epan mengaku, kalau dirinya juga belum sempat ke lokasi. Dikarenakan berada dalam Kawasan TNUK.
“Kalau jalan kaki dari desanya itu kurang lebih dua jam perjalanan. Jadi kalau bolak-balik itu empat jam,” katanya.
Informasi diterima dari warganya, kondisi kapal saat ini masih terdampar di tepi pantai.
“Belum bisa dievakuasi,” katanya.
Camat Cimanggu Encun Sunayah menambahkan, kapal itu sudah cukup lama terdampar di tepi pantai.
“Mau di tarik tapi belum bisa. Iya kapal harus segera di tarik ke laut lagi untuk meneruskan perjalanan masih belum bisa,” katanya.
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK), Ardi Andono mengatakan, pada tanggal 6 Desember 2024, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Tim Evakuasi Pangmalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok berkolaborasi dengan Tim Petugas Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Petugas dari Kantor UPP Kelas III Labuan beserta nelayan setempat berhasil melakukan penyelamatan terhadap 19 ABK MV Felya yang terdampar di Pantai Kajeletan Ujung Kulon.
“Akibat kerusakan pada seal propeller ditambah cuaca yang buruk. Yang mengakibatkan kebocoran pada kapal,” katanya.
Kapolsek Cimanggu IPTU Supriadi mengatakan, kapal itu terdampar semenjak awal Desember.
“Kapal itu terdampar karena mengalami kebocoran. Saat kejadian semua ABK selamat, namun satu ABK dikabarkan meninggal dunia akibat terjatuh,” katanya.
Waktu kejadian, ABK jatuh itu pekan lalu. Namun penanganannya bukan oleh Polsek Cimanggu.
“Kami hanya membantu evakuasi dan memang perjalanan ke lokasi itu jalan kaki dua jam. Lumayan jauh dan aksesnya hanya jalan setapak,” katanya.
Editor: Agus Priwandono











