TANGSEL,RADARBANTEN.CO.ID-Guru Besar UIN Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie mengajak jemaah menjaga kemabruran haji lewat amal nyata dan transformasi spiritual usai pulang dari Tanah Suci.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta ini menegaskan bahwa kemabruran haji bukan sekadar capaian yang selesai setelah seluruh rangkaian ritual ibadah haji dijalani, melainkan merupakan tanggung jawab dan amanah spiritual yang harus dijaga sepanjang hayat.
Ia mengajak jemaah untuk tidak hanya mengenang pengalaman spiritual yang luar biasa selama berhaji, tetapi juga membumikan nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari.
Tawaf, sai, lempar jumrah, hingga mencium Hajar Aswad harus dihadirkan dalam bentuk praksis sosial, misalnya: melayani sesama, menebar kasih sayang, melawan kemungkaran, dan berbakti kepada orang tua serta guru.
“Kalau dulu kita mencium Hajar Aswad, kini saatnya mencium kening ibu, tangan ayah, dan menyapa kaum duafa dengan kasih. Itulah Hajar Aswad kita hari ini,” tutur Tholabi di Masjid An-Noor, Cimanggis, Ciputat, Jumat, 20 Juni 2025.
Tholabi menekankan pentingnya menjaga semangat haji sebagai momentum perubahan jiwa. Ia mengutip pandangan para ulama besar, seperti Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Nawawi, dan Imam Ahmad Zarruq, untuk menggambarkan bahwa haji yang mabrur sejatinya membentuk pribadi yang lebih taat, zuhud, dan penuh empati.
“Haji yang mabrur adalah haji yang membawa perubahan. Jika pulang dari haji tetapi sifat buruk tak berubah, maka patut kita bertanya, sudahkah haji kita diterima?” tanya beliau retoris.
Tak hanya menyapa mereka yang telah berhaji, Tholabi juga menyampaikan pesan inklusif bagi yang belum berkesempatan berangkat ke Tanah Suci.
Ia mengingatkan bahwa kemabruran bukan hanya milik yang telah ke Mekah, namun terbuka bagi siapa pun yang menjalani jalan spiritual dengan keikhlasan dan pengabdian.
“Jangan putus asa karena belum berangkat ke Mekah. Bagi yang belum berhaji, Anda bisa berhaji dengan ketulusan amal, kemuliaan akhlak, dan pelayanan pada sesama,” katanya penuh harap.
Khotbah yang disampaikan dengan gaya tutur lembut namun penuh makna ini menekankan pentingnya muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah manusia. Bagi Tholabi, kesadaran inilah pilar utama dalam menjaga integritas pascahaji.
“Haji itu telah usai, tapi Rabbal-Bayt tidak pernah pergi. Tuhan Kakbah tetap bersama kita, lebih dekat dari urat leher. Maka, tugas kita bukan lagi berhaji secara fisik, melainkan juga berhaji dalam amal dan sikap,” tutupnya.
Kehadiran Tholabi di mimbar Masjid An-Noor disambut hangat oleh para jamaah. Banyak yang merasa tercerahkan dan tersentuh oleh substansi pesan yang disampaikannya.
Sebagai cendekiawan muslim, ia dinilai berhasil menjembatani pesan-pesan teologis dengan praksis kehidupan kontemporer secara proporsional.
Sebagai intelektual muslim, ia dikenal produktif menyampaikan pemikiran keislaman yang reflektif, menyentuh sisi moral, dan menumbuhkan kesadaran sosial keagamaan.
Kiprahnya dalam dakwah akademik terus berlanjut, termasuk melalui khotbah-khotbah yang menekankan pentingnya transformasi rohani demi terwujudnya masyarakat yang lebih beradab.
Reporter: Aas Arbi
Editor: Agung S Pambudi











