SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Kebutuhan untuk jagung pakan di Kabupaten Serang sangat tinggi.
Dalam sebulan, kebutuhan jagung mencapai dua juta ton. Sementara para petani lokal di Kabupaten Serang baru mampu memenuhi 10 persennya saja.
Peluang ini tentunya harus ditangkap dengan baik oleh warga Kabupaten Serang, khususnya mereka yang memiliki lahan-lahan yang luas namun belum termanfaatkan dengan baik.
Ditambah lagi harga penjualan jagung yang relatif stabil dan berapapun hasil panennya pasti ditampung oleh pihak perusahaan.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Yuli Saputra mengatakan, Pihaknya bersama dengan Polres Serang tengah berupaya untuk meningkatkan produksi jagung di Kabupaten Serang.
Bahkan di Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, pihaknya menanam seluas 56 herktare jagung yang ditanam.
“Hampir 3.000-an hektar tapi ini masih menyebar dan terus bertambah karena memang ada program perluasan areal tanam dari Kementerian Pertanian. Nah, ini yang sedang digalakkan termasuk kegiatan hari ini di Jawilan,” katanya, Selasa 8 September 2025.
Ia mengaku, kebutuhan jagung pipilan kering untuk industri pakan di Kabupaten Serang sangat tinggi sekali. Tercatat dalam satu bulan, kebutuhannya mencapai hingga 2 juta ton.
“Sementara yang baru terpenuhi baru sekitar 10 persennya. Artinya masih banyak sekali kebutuhannya, sehingga berapapun masyarakat Kabupaten Serang menanam jagung itu hasilnya akan ditampung sama oleh perusahaan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, potensi ekonomi saat bertani jagung sangat besar sekali. Hal ini karena jagung memiliki harga yang relatif stabil yakni sekitar Rp6.400 per kilogram dengan kadar air 15 persen.
“Itu potensial sekali karena kan kalau kita lihat biaya produksinya itu di angka Rp14 juta. Jadi kalau dia panen sekarang produktivitas kita itu ada di 4 ton setengah per hektar dikali Rp6.400 kan sekitar Rp28 juta,” ujarnya.
Ia mengatakan, untuk masa tanam hingga panen jagung relatif sama dengan menanam padi yakni sekitar 3 bulan. Namun untuk budidaya relatif lebih gampang dan tingkat kebutuhan airnya pun tidak terlalu besar seperti halnya padi.
“Yang terpenting itu kan kita memanfaatkan lahan marginal yang harusnya tidak bisa dimanfaatkan, kita manfaatkan untuk penanaman jagung,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











