JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan itu. Hingga kini Indonesia masih bergantung pada impor, baik untuk daging sapi maupun susu.
Artikel ini dikutip dari disway.id, yang mengulas secara mendalam tentang Program Peningkatan Produksi Daging Sapi dan Susu Sapi Nasional (P2SDN). Program ini menjadi strategi pemerintah untuk menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat kemandirian pangan.
Visi Besar: Dari Ketergantungan ke Kemandirian
Pemerintah menargetkan swasembada daging dan susu melalui pendekatan yang komprehensif. Visi ini bukan hanya soal menutup defisit impor, tetapi juga menciptakan ekosistem peternakan yang berkelanjutan.
Dari sisi ekonomi, langkah ini diharapkan menambah lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat, dan memperkuat posisi Indonesia di sektor pangan global.
Strategi Utama Program
Beberapa strategi utama yang sedang dijalankan meliputi:
1. Impor sapi indukan berkualitas dari Australia, Brasil, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Meksiko untuk memperbaiki genetik ternak lokal.
2. Peningkatan populasi melalui inseminasi buatan, transfer embrio, dan perbaikan bibit.
3. Modernisasi peternakan dengan manajemen pakan, kesehatan, dan produksi berbasis teknologi.
4. Kemitraan dengan peternak lokal agar mereka mendapat akses modal, teknologi, pakan berkualitas, serta pendampingan.
5. Pemerataan pembangunan dengan membuka 21 lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Anggaran dan Dukungan Lembaga
Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH mendapatkan tambahan anggaran Rp2,13 triliun pada 2025 untuk memperkuat program ini. Dana tersebut digunakan untuk impor sapi indukan, penyediaan pakan, infrastruktur kandang, hingga riset.
Selain Kementan, sejumlah pihak juga terlibat: Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BUMN peternakan, perbankan, hingga asosiasi peternak dan universitas. Kolaborasi ini diharapkan bisa mempercepat swasembada.
Peran Strategis untuk Program Makan Bergizi Gratis
Salah satu tujuan besar dari swasembada adalah mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Dari laman resmi Kementerian Kesekretariat Negara, hingga Agustus 2025, Presiden Prabowo mengklaim program ini telah membantu meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah.
“Sudah ada 5.800 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di 38 provinsi di Indonesia. MBG telah menciptakan 290.000 lapangan kerja baru di dapur- dapur, dan melibatkan 1 juta petani, nelayan, peternak dan UMKM. MBG mendorong pertumbuhan ekonomi di desa-desa,” tutur Prabowo dikutip Jumat, 19 September 2025.
Untuk mendukung jalannya program MBG ini, pemerintah mengimpor dua juta ekor sapi selama Pemerintahan Presiden Prabowo.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menjelaskan sapi-sapi yang diimpor berupa indukan yang akan dikembangbiakan. Dia menerangkan sapi indukan tersebut akan disebar ke berbagai peternak. Baik skala kecil maupun besar, melalui pola kemitraan.
Pada September 2025 ini, Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa 40.500 ekor sapo telah diimpor dari target 150.000 ekor sapi perah dan sapi pedaging.
“Kita punya target memang besar, 150.000 ekor sapi perah dan sapi pedaging investasi di Indonesia. Sudah ada investasi masuk 11.500 sapi perah untuk kebutuhan susu dan 29.000 ekor investasi sapi pedaging untuk daging sapi potong,” kata Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IV DPR pada Selasa, 16 September 2025.
Hampir senada, Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa untuk mendukung jalannya program MBG ini, pemerintah mengimpor dua juta ekor sapi selama Pemerintahan Presiden Prabowo.
Menurut Dadan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan 50–60 ekor sapi perah agar bisa menghasilkan rata-rata 10 liter susu per hari. Dengan jumlah SPPG yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, kebutuhan nasional diproyeksikan mencapai ratusan ribu ekor sapi perah baru.
“Dengan impor sapi indukan ini, peternak justru akan diuntungkan karena ada pembelian susu yang lebih pasti dengan harga yang lebih baik,” jelas Dadan kepada disway.
Ia menekankan bahwa manfaat dari program ini tidak hanya mendukung MBG, tetapi juga pemenuhan kebutuhan susu nasional secara keseluruhan.
Dukungan dan Tantangan di Lapangan
Peternak lokal, seperti Syaiful dari Putra Jakarta Farm dan Edy Suprayitno dari Tangerang, menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Mereka menilai langkah impor indukan harus dibarengi dengan perhatian lebih dari pemerintah, terutama pada akses subsidi, obat-obatan, vitamin, hingga pendampingan teknis.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Mulai dari tingginya harga pakan, ancaman penyakit PMK, keterbatasan modal, hingga kebutuhan pasar yang belum merata.(*)
Reporter : Dimas/ DISWAY.ID
Chandra/DISWAY.ID
Editor : Krisna Widi











