SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Reruntuhan Benteng Speelwijk di pesisir Banten Lama selama ini lebih dikenal sebagai bangunan tua bercorak kolonial yang menyisakan dinding-dinding karang dan bata merah.
Namun, siapa sangka, di balik hamparan rumput yang selama bertahun-tahun menjadi lapangan sepak bola warga, tersimpan fondasi bangunan, saluran drainase, hingga struktur ruang yang selama ini hilang dari narasi sejarah.
Temuan ini terungkap melalui ekskavasi arkeologi yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII sepanjang November 2025.
Ekskavasi tersebut menjadi upaya pertama yang secara sistematis menelusuri apa saja yang masih tertinggal di bawah permukaan tanah Benteng Speelwijk—benteng VOC yang dibangun pada 1682 setelah kemenangan Sultan Haji dalam perang saudara melawan Sultan Ageng Tirtayasa.
Adita Noviandi, Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah VIII, menjelaskan bahwa ekskavasi dilakukan untuk menjawab kekosongan data mengenai bangunan-bangunan di dalam benteng.
“Selama ini kita hanya melihat benteng dari dinding luarnya. Bagian dalamnya justru yang paling minim informasi. Padahal di sinilah pusat aktivitas VOC di Banten berlangsung,” ujar Adita, Jumat, 5 Desember 2025.
Menurutnya, ekskavasi dilakukan menggunakan kotak bergrid untuk memastikan setiap lapisan tanah dapat dibaca secara stratigrafis. Metode ini menghasilkan temuan penting yang menguatkan hipotesis adanya bangunan permanen, area terbuka, hingga sistem drainase.
Salah satu temuan menonjol adalah susunan bata memanjang yang tersusun rapi. Susunan ini diduga sebagai pondasi bangunan kolonial yang dahulu digunakan sebagai kantor, barak, atau gudang VOC.
Pahlawan Putra, Pamong Budaya Ahli Madya BPK Wilayah VIII, menjelaskan bahwa pola bata tersebut menunjukkan konstruksi yang dibuat dengan perencanaan jelas.
“Susunan bata yang kami temukan sangat khas bangunan kolonial. Orientasinya terarah dan tersusun kuat. Ini indikasi adanya bangunan permanen yang berdiri di atasnya,” katanya.
Selain pondasi, tim juga menemukan permukaan bata rata menyerupai lantai dan jalur bata linear yang diduga sebagai bagian dari sistem drainase.
“Drainase ini penting karena benteng berada di wilayah pesisir. VOC sangat memperhatikan sirkulasi air agar area dalam benteng tidak lembab,” imbuh Pahlawan.
Di beberapa kotak ekskavasi lainnya, tim menemukan lapisan tanah homogen tanpa material konstruksi pertanda adanya ruang terbuka yang mungkin pernah menjadi lapangan upacara, tempat latihan, atau ruang sosial para penghuni benteng.
Bagi para peneliti, temuan ini bukan sekadar bongkahan bata. Ia adalah potongan sejarah yang menautkan catatan kolonial dengan bukti fisik yang masih bertahan ratusan tahun.
“Arkeologi memberi kita narasi yang tidak tercatat di dokumen VOC. Kita bisa melihat bagaimana orang hidup di mana mereka bekerja, bagaimana mengelola air, dan bagaimana ruang-ruang di dalam benteng diatur,” kata Adita Noviandi.
Benteng Speelwijk sendiri memainkan peran penting dalam sejarah Banten. Ia dibangun sebagai imbalan bagi VOC setelah membantu Sultan Haji memenangkan perang saudara melawan Sultan Ageng Tirtayasa.
Di benteng inilah VOC mengatur perdagangan, mencatat laporan harian, dan mengendalikan politik Banten hingga akhir abad ke-18 sebelum akhirnya mengalami kerusakan akibat serangan Daendels.
Di masa kini, area dalam benteng telah lama menjadi tanah lapang yang digunakan warga untuk bermain sepak bola—aktivitas positif, namun memiliki risiko terhadap struktur bawah tanah yang rapuh.
Pahlawan Putra menegaskan bahwa temuan ekskavasi ini harus menjadi landasan pelestarian.
“Struktur yang ditemukan rentan. Tanpa perlindungan, ia bisa hilang selamanya. Temuan ini harus ditindaklanjuti dengan konservasi yang tepat,”pungkasnya.
Editor Daru











