Penulis : Dr. KH Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya:
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Oleh karena itu, siapa di antara kamu yang hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, maka berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
(QS. Al-Baqarah: 185)
Pengendali Nafsu
Ramadan adalah momentum untuk bertaubat dan penyucian jiwa. Sebulan terasa singkat untuk mengendalikan hawa nafsu yang lama dibiarkan lepas. Kerinduan terhadap Ramadan berikutnya lahir karena kesadaran bahwa pekerjaan batin belum selesai. Tak ada jalan instan untuk meraih kemuliaan Ramadan. Niat kita dalam menjalaninya akan menentukan makna yang diraih. Tingkat kesungguhan dalam menjalaninya juga menentukan dampaknya pada diri.
Ramadan adalah bulan yang paling dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan penuh keberkahan ini menjadi momentum untuk meningkatkan iman, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Namun, agar Ramadan dapat dijalani dengan optimal, diperlukan persiapan yang matang sejak jauh hari. Persiapan Ramadan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga meliputi persiapan spiritual, mental, dan sosial.
Persiapan Ramadan memiliki peran yang sangat penting agar ibadah yang dijalani tidak terasa berat dan dapat dilakukan secara konsisten. Rasulullah SAW dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana mereka menyambut Ramadan dengan penuh kesungguhan, bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Pada bulan Ramadan juga harus dilakukan peningkatan kualitas ibadah. Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan ibadah, sehingga seorang muslim sebaiknya mulai membiasakan diri menjalankan amalan-amalan sunnah sebelum Ramadan datang. Salah satu bentuk persiapan ibadah adalah membiasakan shalat tepat waktu dan memperbanyak shalat sunnah. Dengan membiasakan shalat sunnah sebelum Ramadan, seseorang akan lebih siap menjalani ibadah tarawih dan qiyamul lail di bulan Ramadan.
Pahala Berlimpah
Ramadan merupakan bulan agung (syahrun ’adhim) dan penuh berkah (syahrun mubarak). Umat Islam diperintahkan untuk berpuasa wajib dan dianjurkan untuk melaksanakan berbagai ibadah sunnah yang pahalanya dilipatgandakan. Tepat bila dikatakan Ramadan merupakan salah satu hadiah besar dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW yang rata-rata usianya relatif pendek. Inilah kesempatan umat Islam untuk melipatgandakan amal saleh.
Di bulan ini, Allah SWT menganugerahkan satu malam yang istimewa yang hadir pada setiap Ramadan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai malam penentuan (Lailatul Qadr), yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Keberuntungan besar bagi siapa pun yang memperolehnya. Di bulan ini pula mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yakni kitab suci Al-Qur’an, diturunkan.
Ramadan merupakan bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Agar bulan suci ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, persiapan Ramadan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, baik dari sisi spiritual, fisik, maupun sosial. Dengan mempersiapkan hati, ibadah, ilmu, dan kesehatan sejak sebelum Ramadan, seorang muslim akan lebih siap menjalani ibadah dengan khusyuk dan penuh makna. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan serta kesempatan untuk terus bertemu dengan Ramadan pada tahun-tahun yang akan datang.
Puasa merupakan bagian dari iman (al-shaum rub’ul iman). Berpuasa adalah kewajiban yang berat. Jika bukan karena iman, sulit bagi kita menjalankannya. Bayangkan, kita harus meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri—tiga kebutuhan yang biasa dilakukan setiap hari. Tiba-tiba sekarang kita harus menahannya dalam ibadah puasa. Tanpa keimanan yang kuat, Ramadan bisa saja berlalu seperti bulan-bulan lainnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya:
“Berpuasa adalah separuh kesabaran (al-shaum nisf al-shabr), dan kesabaran adalah separuh dari iman (al-shabr nisf al-iman).”
Dengan demikian, berpuasa melatih kesabaran seorang hamba untuk menjalankan perintah Tuhannya. Menahan haus dan lapar dari Subuh hingga Maghrib membutuhkan kesabaran yang tinggi. Ada banyak godaan ketika di rumah, apalagi di luar rumah. Sekalipun ia makan sahur bersama keluarga, jika tidak sabar menunggu waktu berbuka tiba, ia bisa saja tergoda untuk mampir ke rumah makan saat makan siang. Tanpa keimanan, berpuasa nyaris menjadi laku yang sia-sia.

Penulis adalah penulis buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional, buku Manajemen Transformasi Pendidikan, dan dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.











