PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam dan berdampingan dengan masyarakat Kabupaten Pandeglang. Komitmen tersebut diaktualisasikan melalui lima program Pagar Taman Nasional Ujung Kulon.
Program Pagar TNUK (Taman Nasional Ujung Kulon) merupakan strategi konservasi berbasis masyarakat yang diluncurkan Balai TNUK untuk melindungi Badak Jawa dan ekosistemnya melalui pendekatan sosial-ekonomi.
Program Pagar TNUK terdiri dari lima pilar, yaitu Pagar Ekonomi, Budaya, Sosial, Pendidikan, dan Kehidupan, yang bertujuan melibatkan masyarakat sekitar dalam menjaga kelestarian hutan.
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono mengatakan, pada prinsipnya taman nasional tidak akan aman apabila tidak memiliki pagar.
“Untuk itu BTNUK meluncurkan lima program pagar taman nasional agar kelestarian alam tetap terjaga dan dapat berdampingan dengan masyarakat,” katanya, Sabtu 7 Maret 2026.
Ardi menjelaskan, lima program pagar tersebut meliputi Pagar Ekonomi, yakni memberikan bantuan kepada masyarakat yang produktif agar dapat hidup lebih sejahtera. Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok tani madu, kelompok wisata, peternak, serta bantuan sarana dan prasarana.
“Kedua yaitu Pagar Budaya, mendekatkan diri kepada masyarakat yang memiliki budaya kearifan lokal seperti kuncen, bahkan mengakomodir dan memberikan izin jasa. Selain itu BTNUK juga melaksanakan istigasah dan pengajian massal,” katanya.
Selanjutnya Pagar Sosial, yaitu mendekatkan diri secara sosial kepada masyarakat dengan memberikan santunan kepada anak yatim, pengobatan massal, bantuan banjir, bahkan kendaraan operasional milik BTNUK juga dapat digunakan oleh masyarakat dalam kondisi darurat.
“Lalu Pagar Pendidikan adalah program untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak dalam bentuk Rhino Goes To School,” katanya.
BTNUK juga memberikan rekomendasi kepada anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional agar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah kehutanan.
“Program kelima yaitu Pagar Kehidupan, artinya memberikan tanaman yang bermanfaat bagi masyarakat untuk ditanam di luar kawasan. Sehingga masyarakat bisa memanen hasilnya seperti mangga, rambutan, pete, dan jengkol,” katanya.
Kelima program Pagar TNUK tersebut diluncurkan bertepatan dengan peringatan HUT ke-46 BTNUK.
Selain itu, Ardi mengungkapkan bahwa Sekolah Kehutanan merupakan lembaga pendidikan setingkat SMA/SMK. Anak-anak lulusan SMP dengan nilai minimal tujuh pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika berpeluang mendapatkan rekomendasi.
“Kita rekomendasikan ke sekolah kehutanan. Rekomendasi tersebut diberikan kepada masyarakat lokal yang tinggal di sekitar Taman Nasional agar mendapat prioritas,” katanya.
Ardi menegaskan, SMK Kehutanan Negeri Kadipaten merupakan lembaga pendidikan kejuruan kehutanan yang berlokasi di Majalengka, Jawa Barat. Sekolah tersebut gratis, namun siswa harus tinggal di asrama selama tiga tahun.
“Kurang lebih ada sekitar 20 anak yang sudah masuk sekolah kehutanan. Bahkan pegawai BTNUK juga banyak yang merupakan lulusan sekolah kehutanan,” katanya.*
Editor : Krisna Widi Aria











