Oleh: Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, M.M., M.Sc., Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad).
Puasa & Nilai Etika
Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Allah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan. Juga wajib menjaga anggota badan dari segala dosa, seperti berkata yang haram, melihat yang haram, mendengar yang haram, minum dan makan yang haram, agar puasanya menjadi bersih dan diterima serta orang yang berpuasa memperoleh ampunan dan pembebasan dari api neraka.
Ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan, dan pengangkatan derajat. Puasa melatih diri kita untuk hidup berdisiplin karena selama berpuasa kita tidak makan dan minum kecuali setelah terbenamnya matahari atau datangnya waktu magrib.
Terdapat tiga nilai yang terkandung dalam pelaksanaan puasa, antara lain:
Pertama, puasa mengandung nilai-nilai etika inti (core ethical values) mendasar yang sangat menentukan kualitas individu, yaitu nilai-nilai keimanan, kesabaran, ketangguhan, pengendalian diri, empati, kepedulian pada sesama, dan ketaatan pada aturan.
Kedua, puasa merupakan proses penanaman nilai yang paling efektif.
Ketiga, puasa menghasilkan perilaku karakter baik sesuai dengan nilai yang dikonstruksi.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu.
Dalam pelaksanaan puasa terdapat lima prinsip penanaman nilai moral, antara lain:
Pertama, unsur pengajaran. Puasa mengajarkan dan mengembangkan proses kognitif dengan baik. Majelis-majelis ilmu berkembang di mana-mana dan kajian keislaman menjamur.
Kedua, unsur pembiasaan, yakni membiasakan tumbuhnya nilai-nilai keimanan dalam diri, membiasakan untuk bersabar, membiasakan memiliki jiwa yang tangguh dalam menghadapi tantangan, serta membiasakan peduli pada sesama.
Ketiga, unsur keteladanan, yakni memberikan contoh yang baik pada anak-anak atau generasi muda.
Keempat, unsur motivasi, adanya reward dan punishment dalam berpuasa baik bersifat material maupun spiritual.
Kelima, unsur penegakan aturan. Berpuasa mengajarkan kepada setiap orang agar membiasakan diri dengan sikap taat pada aturan, karena aturan akan membentuk setting limit individu, yakni untuk memilih mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mana yang pantas dan tidak pantas berdasarkan nilai-nilai moral.
Puasa dapat menjadi media yang efektif untuk mengembangkan karakter baik serta memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan: Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan. Adapun yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Kesejatian Jati Diri
Ibadah puasa merefleksikan keimanan seorang hamba kepada Sang Khalik. Ibadah puasa adalah madrasah rohani yang membangkitkan semangat spiritual serta mendekatkan diri kepada Sang Pemilik jagat raya beserta segala isinya. Menggelorakan nafsu muthmainnah dan menghentikan nafsu syahwat yang tidak pada tempatnya.
Ibadah puasa adalah sarana meraih takwa. Nilai spiritual takwa adalah tujuan dari ibadah puasa. Ibadah puasa melatih manusia agar lebih tabah dan lebih sabar. Ibadah puasa mampu mengendalikan amarah. Sebaliknya, ibadah puasa melatih kesabaran atas segala perbuatan orang lain terhadap dirinya.
Ibadah puasa menguji ketaatan jiwa seseorang dan kejujuran dalam menjalankan ibadah puasa. Di saat ramai atau di saat sunyi, jiwa terus menjalankan ibadah puasa.
Puasa harus menjadi penerang bagi kehidupan berbangsa kita yang sebelumnya berkemelut dalam kegelapan karena pertikaian.
Betapa banyak berkah dan kebaikan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Maka kita wajib memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan beramal saleh. Semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalnya dan beruntung.
Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, zikir, doa, dan istigfar.
Ramadhan merupakan kesatuan untuk sebuah sistem dan ilmu kerahmatan Tuhan ketika manusia berupaya back to basic, kembali kepada kesejatian dan keutamaan jati diri yang tidak lepas dari ikatan Ilahiyah.
Dasar kesejatian dan keutamaan jati diri manusia tersebut mencakup tiga hal, yaitu:
Pertama, manusia sebagai hamba Allah yang diberi anugerah keunggulan kemuliaan oleh Allah, lebih mulia dari makhluk lain ciptaan-Nya, termasuk malaikat sekalipun.
Kedua, manusia sebagai penerima amanah Allah, dan tidak ada makhluk lain yang sanggup menerima amanah itu karena begitu beratnya. Sebagai penerima amanah Allah, manusia dilengkapi kompetensi dan kapasitas berupa akal dan nafsu.
Ketiga, manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Posisi dan peran kekhalifahannya mewujudkan sifat-sifat Tuhan di dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, Ramadhan merupakan upaya manusia mukmin untuk kembali kepada kualitas kesejatian manusia sebagai hamba Tuhan, penerima amanah, dan pelaksana kekhalifahan Tuhan di bumi. Hal itu akan terus-menerus menjadi motivasi perjuangan, arah, dan pengendali diri dalam mengokohkan dirinya untuk tetap berada di jalan yang lurus ketika ia hidup di dunia.
Ada tiga perisai yang diberikan Allah kepada manusia untuk mempertahankan kemuliaannya itu.
Pertama, manusia diberi perisai berupa diturunkannya Nabi, Rasul, dan Kitab Suci.
Kedua, perisai yang berbentuk ampunan Allah yang dapat dilakukan manusia dengan cara bertobat.
Ketiga, syafaat dari Rasulullah SAW.
Ketiga perisai yang diberikan Allah kepada manusia itu akan mampu dipergunakan manusia, antara lain untuk mengembangkan pengertian diri mengenai dari mana ia datang dan akan ke mana setelah itu.
Sesungguhnya ia datang dari Allah, hidup untuk melaksanakan amanah Allah, dan akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua amalnya di hadapan Tuhan.

Penulis adalah Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten / Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi Cikedal Pandeglang / Penulis Buku Islam dalam Transformasi Kehidupan dan Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.











