Sebelum menikah, Semprul (47) bukan nama sebenarnya mengaku, sudah mengenal Wenah (45) nama samaran sejak setahun lamanya. Kisah rumah tangga mereka sempat mengalami goncangan dahsyat lantaran tak ada transparansi dari sang istri. Peristiwa itu terjadi saat Wenah berusia 38 tahun dan Semprul 40 tahun.

Semprul bercerita, dahulu, meski jarang bertemu karena jarak dan waktu, tetapi komunikasi keduanya berjalan lancar melalui telepon. Ya, meski baru bertemu sekali di acara pernikahan teman, tetapi kemistri cinta antara mereka sudah terasa.

Sampai akhirnya, Semprul menegaskan sikap atas apa yang ia rasakan terhadap sang wanita. Meski awalnya Wenah tak percaya sampai menunda jawaban cinta, mungkin setelah melakukan perenungan dan mengorek pribadi Semprul luar dan dalam, ia pun bersedia menjadi kekasih hati sang pria. Ciyee.

“Ya waktu itu saya nunggu sebulan buat dapet jawaban dia, akhirnya diterima juga. Besoknya kita ketemuan,” akunya. Ciyee.

Tak disangka, meski jarang bertemu, hubungan Semprul dan Wenah berjalan sempurna. Keduanya merasa bahagia. Teleponan setiap malam, baik Wenah maupun Semprul sering menebar kata mesra. Ibarat sepasang merpati muda, mereka berada pada fase sayang tingkat dewa.

Semprul anak terakhir dari tiga bersaudara. Lelaki yang tinggal di sebuah kampung di Kabupaten Serang itu, memiliki masa muda penuh warna. Terlahir dari keluarga berada, ayah bekerja di perusahaan ternama dan memiliki banyak tanah, apa yang diminta pasti terlaksana.

Tak hanya itu, ia juga dianugerahi wajah tampan rupawan. Berkulit sawo matang, dengan gaya anak muda metropolitan, Semprul sukses menarik banyak hati perawan. Tapi lantaran memegang prinsip tak ingin berpacaran apalagi menikah dengan wanita satu daerah, ia sering menolak cinta.

Lain Semprul lain juga dengan Wenah, anak pertama dari empat bersaudara itu, tidak seberuntung semprul yang memiliki ekonomi mumpuni. Ayah petani dan ibu berkebun, Wenah memiliki tanggung jawab besar terhadap adik-adiknya.

Menjadi tulang punggung keluarga, tak heran jika Wenah mau melakukan apa pun demi mendapatkan nafkah. Mulai dari berjualan online saat masih sekolah, sampai bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan. Memiliki paras cantik dan lekuk tubuh yang menggoda, Wenah sebenarnya banyak menarik perhatian pria. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Semprul, harapan hidup sejahtera pun muncul.

Bagai menemukan kesatria di tengah gelapnya malam, sikap Wenah terhadap Semprul penuh perhatian. Ia seakan takut kehilangan lelaki yang sangat diharapkan menjadi suaminya ini. Hal itu pun dirasakan Semprul, ia sendiri tidak melihat wanita dari harta, asalkan cantik dan sesuai kriteria, pasti langsung dijadikan pilihan menuju pelaminan.

“Waktu itu, orangtua saya berniat mau menjodohkan dengan anak temannya. Apesnya, kabar perjodohan itu terdengar pacar saya, lah, ngamuk deh dia jadinya,” terang Semprul.

Wenah meminta kejelasan Semprul. Lantaran menuntut keseriusan, ia meminta sang kekasih datang ke rumah. Di sanalah kesepakatan itu terjadi. Dengan keseriusan cinta yang sudah tertanam, mereka berencana menikah secepatnya. Apalah daya, lantaran kedua orangtua tak bisa memaksa kehendak Semprul, Pernikahan pun terjadi.

Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan kesepakan bersama, Wenah bersedia tinggal bersama keluarga Semprul. Mencoba terus beradaptasi, ia diterima apa adanya oleh keluarga suami.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Keluarga Semprul pun semakin menyayangi Wenah. Mereka hidup bahagia dengan ekonomi yang mumpuni. Hingga memasuki tahun kedua usia pernikahan, mereka tinggal di rumah pribadi.

Sejak saat itulah, mungkin merasa bebas dari pengawasan mertua, Wenah mulai menunjukkan sikap aslinya. Sering meminta dibelikan ini dan itu, mulai dari perhiasan sampai barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, ia seenak hati menuntut pada suami. Aih, kok bisa begitu ya, Kang?

“Ya sekali dua kali sih masih saya turutin, tapi kalau sudah keseringan, wah enggak kuat saya. Jangankan buat nabung, buat beli rokok saja kadang enggak ada,” curhat Semprul.

Karena hal itu pula, menempati rumah pribadi bukannya makin mesra, malah seperti neraka. Keributan sering terjadi setiap hari. Parahnya, mungkin karena terganggu dengan kelakuan Semprul dan Wenah, sang anak yang mulai tumbuh remaja sering kabur dan menginap di rumah teman.

Sekian tahun berlalu, meski dengan ketegangan yang bisa muncul tak terduga, Semprul masih bisa mengontrol keadaan. Tak ada lagi keharmonisan duduk berdua sambil berbicara mesra, hubungan mereka masih terbilang aman. Baik Semprul maupun Wenah sama-sama menjaga perasaan.

Sampai suatu hari, ketika Semprul baru pulang kerja, ia tak mendapati Wenah di rumah. Sang anak pun bermain entah di mana. Sambil melepas lelah, Semprul duduk di sofa ruang tengah. Tak begitu lama, terdengarlah pintu diketuk. Ketika dibuka, didapatinya dua petugas perusahaan air ternama milik negara.

“Permisi Pak, maaf, kami mau menutup saluran air di rumah ini karena Bapak tidak membayar setoran selama dua tahun,” begitu kata sang petugas.

Semprul kaget bukan kepalang. Soalnya, selama ini ia menyerahkan semua uang keperluan rumah ke sang istri. Ternyata, Semprul dikhianati, Wenah diam-diam memakan uang setoran air untuk memenuhi keinginannya membeli barang-barang bagus seperti tas, sepatu, dan lain-lain.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, saat itu juga datang Wenah membawa barang belanjaan. Tak mampu menahan amarah, Semprul memarahi sang istri habis-habisan. Wenah menangis sesenggukan tak mampu melawan. Tak disangka, di depan pintu sang anak berdiri berurai air mata. Dibantingnya pintu dan berlari entah ke mana. Kedua petugas hanya mematung, mereka pun pergi setelah ikut terkena amukan Semprul.

Wenah pulang ke rumah orangtua, sedangkan Semprul sibuk mencari anaknya. Mereka sempat berpisah selama sebulan, akhirnya kembali bersama. Sejak saat itu, bagai mendapat hidayah, Wenah menuruti kemauan suami dan tak pernah menuntut lagi. (daru-zetizen/zee/ags/rbg)