Ketimpangan
Hakikat pernikahan itu bukan hanya menghubungkan pria dan wanita dalam ikatan resmi. Pernikahan juga mempererat tali silaturahmi antara dua keluarga besar. Karena itulah, sangat penting untuk memastikan kedua keluarga menerima masing-masing calon pengantin. Bilamana itu tidak dilakukan, maka yang akan terjadi seperti yang dialami pasangan Iroh (28) dan Heri (36), keduanya nama samaran.
Kisah cinta Iroh dan Heri berdampak buruk kepada keluarga mereka. Tidak hanya pada tatanan keluarga internal, bahkan hingga kerabat jauh. Perseteruan dua keluarga ini merembet luas. Ini berdampak pada insiden pertengkaran hebat ketika akad nikah Iroh dan Heri berlangsung. “Waktu itu, bibi saya teriak ke kakak perempuan Heri. Lalu uwaknya Heri juga membalas. Jadi pernikahan saya berujung saling teriak,” kata Iroh.
Ia menerangkan, persoalan ini berawal dari ketimpangan derajat antara Iroh dan Heri. Iroh berasal dari keluarga terpandang, sementara Heri dari keluarga biasa saja. Selain itu, Iroh yang memiliki tubuh bohay aduhai adalah seorang model. Sementara Heri tidak lain hanyalah pekerja magang di sebuah perusahaan, jomplang banget ya. “Intinya keluarga saya merasa jika Heri bukan pria yang pantas untuk saya,” terangnya.
Heri ketika itu masih berstatus magang di perusahaan tempat ia bekerja. Namun karier dia cukup menjanjikan lantaran atasan perusahaan tempat Heri bekerja menyukai kinerja Heri. “Padahal dia itu kariernya menjanjikan, sebab dia dekat dengan bosnya,” ujar Iroh.
Heri juga mendapatkan perlakuan istimewa dari si bos. Salah satunya meminjamkan satu mobil pribadi untuk digunakan Heri melakukan aktivitas sehari-hari. “Teman-teman kantornya juga sampai cemburu melihat kedekatan Heri dan si bos. Dia memang mudah bergaul orangnya,” tutur Iroh.
Pertemuan Heri dan Iroh sendiri terjadi di sebuah rumah makan. Ketika itu Iroh diminta manajemen untuk ikut pertemuan tersebut. Ketika itu, Heri diperkenalkan di hadapan forum oleh si bos. Heri tidak disebut seorang staf atau sopir, melainkan teman si bos.
Ketika pertemuan berlangsung, terjadi kontak mata antara Heri dan Iroh. Mereka saling curi pandang dan lirik-lirik. Usai pertemuan, Heri akhirnya mengajak kenalan. Kesan pertama Heri cukup mengesankan Iroh. “Pakaiannya necis, apalagi saya kira dia memang teman bosnya itu. Makanya saya tertarik kepadanya,” tutur Iroh.
Iroh memberikan sinyal ketertarikannya kepada Heri. Gayung bersambut, Heri pun kesengsem kepada Iroh. Ya iya lah, model gitu loh. “Buat kami, bikin cowok tertarik itu gampang. Tinggal lihatin gaya tubuh kita waktu ngobrol pun, cowok pasti langsung paham,” jelasnya.
Keesokan harinya, Iroh dan Heri saling berkomunikasi. Entah itu telepon, BBM, SMS, dan lain-lain. Kedekatan mereka pun semakin terlihat, hingga akhirnya mereka berpacaran. “Waktu pendekatan, Heri sering datang bawa mobil. Orangtua senang kalau yang datang cowok bermobil. Kalau bawa motor, reaksinya biasa saja. Apalagi kalau motornya motor bebek,” akunya.
Tak Suka
Lama-kelamaan, Iroh akhirnya tahu jika posisi Heri di perusahaan tidak sesuai yang ia kira. Heri jujur kepadanya jika status di perusahaan adalah pegawai magang. Tapi Iroh sudah kepalang cinta, karenanya ia tidak terlalu mengindahkan status Heri itu.
Hanya saja Iroh mencoba merahasiakan hal tersebut kepada orangtua. Sebab ia hapal reaksi mereka jika tahu Heri adalah orang biasa. Namun apa daya, kabar burung cepat terbang. Salah satu kerabat Iroh yang tidak lain satu perusahaan dengan Heri, membocorkannya.
Sejak saat itu, pandangan keluarga besar Iroh kepada Heri mulai miring. Mereka mencibir Heri dan mengatakan dirinya tidak pantas disandingkan dengan Iroh. Tidak jarang kalimat-kalimat yang dilontarkan sangat sinis. Tentu ini membuat telinga keluarga besar Heri memanas.
Tanpa disadari Heri dan Iroh, terjadi saling ejek antara kedua keluarga melalui media sosial. Keluarga Heri yang diserang terlebih dahulu membela martabat keluarga mereka. Tidak cukup membela, keluarga Heri pun balik. Suasana kedua belah keluarga benar-benar panas.
Hal ini tidak bisa diredam, bahkan situasi semakin runyam ketika Heri meminang Iroh. Heri didukung penuh si bos sehingga percaya diri. Namun dukungan bos tidak cukup untuk keluarga Iroh.
Sampai akhirnya pada acara resepsi pernikahan, bom waktu meledak. Aksi saling ejek terjadi antara kedua belah pihak. Para tamu undangan dibuat kebingungan melihat pertengkaran yang terjadi ketika itu. “Saya malu sekali, keluarga Heri mengejek saya dengan sebutan perempuan gampangan. Lalu keluarga saya bilang kalau Heri cuma bawahan. Jadinya saling ejek,” tuturnya.
Tidak tahan dengan apa yang terjadi, Iroh dan Heri meninggalkan acara pesta mereka. Keduanya kemudian sepakat jika pernikahan yang belum sempat mereka jalin harus secepatnya disudahi.
Karena itulah, sepekan setelah pernikahan, Iroh mendatangi Pengadilan Agama untuk melakukan gugatan cerai. Ketika itu, Heri juga ikut mendampingi Iroh, perceraian berjalan dengan lancar. “Kami sepakat untuk cerai baik-baik. Dari awal memang sudah kelihatan tidak akan baik. Belum nikah saja sudah saling serang, mana bisa dipaksakan kalau kondisinya seperti itu,” jelas Iroh. (Sigit/Radar Banten)









