Mengeksploitasi Istri
Memiliki istri pintar adalah sebuah berkah, entah itu pintar memasak, mengurus rumah, atau pintar urusan ranjang. Nah Siska (32), nama samaran, punya intelegensi dalam hal akademik. Ia pintar matematika dan ahli di bidang keuangan, sesuai dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah.
Pihak paling beruntung dalam hal ini tentu saja suami Siska, sebut saja Gobang (38). Terlebih, pria yang kini menduduki jabatan manajer ini telah mengeksploitasi kepintaran Siska untuk kepentingan kariernya di sebuah perusahaan swasta di Serang.
Bagaimana cara dia mengeskpolitasi istri? Gobang kerap meminta Siska melakukan semua pekerjaan kantornya. Pekerjaan yang dimaksud adalah hal-hal bersifat administratif dan pencatatan keuangan. “Saya kan jurusan akuntansi, jadi tahu betul hal-hal seperti itu,” katanya.
Siska saat kuliah berhasil mendapatkan IPK tinggi, ia pun salah satu siswi terbaik di kelasnya. Namun ia tidak memilih jalan berkarier, usai menikah ia fokus mengurus anak dan merawat rumah. “Waktu pertama menikah, hati kecil berkata ingin sekali bekerja sesuai bidang saya. Tapi mau bagaimana, di rumah tidak ada orang lain selain saya. Masa anak-anak ditinggalkan?” ujarnya.
Karena itulah, ia memilih tinggal di rumah. Lagi pula menurut Siska, pekerjaan rumah sama beratnya dengan pekerjaan di kantor. “Di kantor itu kan pikiran dan tenaga, kalau di rumah cuma tenaga saja,” tuturnya.
Karena prinsip itu, Siska tidak keberatan ketika pekerjaan Gobang diserahkan kepada Siska. Sebab Siska merasa seperti bekerja di kantor. “Awalnya saya senang-senang saja. Selain membantu suami, sekalian melatih otak agar tidak tumpul. Juga tidak melupakan pelajaran selama kuliah,” jelasnya.
Ketika Gobang masih menjabat staf, berkas-berkas pekerjaan ia bawa ke rumah. Ia lalu meminta Siska mengerjakannya sampai tuntas. Biasanya, Siska selalu mengerjakan pekerjaan suaminya sampai selesai. Sehingga keesokan harinya, pekerjaan Gobang selesai tanpa PR. “Sepertinya karena dorongan ingin kerja, setiap ada tugas selalu saya selesaikan sampai tuntas. Kadang sampai subuh saya kerjakan pekerjaan Mas Gobang. Kalau dia sih tidur,” katanya.
Dari kacamata kantor, kinerja Gobang selaku staf cukup bagus. Lantaran pekerjaannya selalu selesai dengan cepat, ia diminta masuk ke divisi keuangan perusahaan tempat dia bekarja. Meskipun awalnya ragu, namun Gobang menerimanya. Hal yang membuat dia ragu, semua pekerjaannya berkaitan dengan keuangan. “Mas Gobang kan blank banget dengan keuangan. Tapi setelah saya yakinkan untuk ia terima, dia akhirnya menerima jabatan itu,” terangnya.
Untuk mengakali masalah kinerja, Gobang membeli laptop dan wifi untuk dipasang di rumah. Dengan begitu dia bisa mengirimkan semua tugas kantornya melalui email. “Sejak pertama masuk di pekerjaan baru, Mas Gobang kirim tugas-tugasnya lewat email. Lalu saya kerjakan,” tuturnya.
Sebenarnya…
Pola tersebut cukup efektif. Lantaran Siska memang cekatan dalam mengerjakan dokumen keuangan, tugas-tugas Gobang dapat diselesaikan dengan cepat. Tentu ini berefek pada kariernya, apalagi keahlian Gobang sebenarnya adalah diplomasi, atau bahasa kasarnya menjilat atasan. “Sebetulnya kelebihan Mas Gobang itu dalam hal pergaulan. Dia cepat disukai orang, termasuk atasan-atasannya,” jelas Siska.
Padahal, gara-gara pekerjaan baru itu, Siska dibuat babak belur di rumah. Sebab selain harus mengerjakan pekerjaan Gobang, dia pun harus memasak, bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, menyuapi makan anak-anak, dan lain lain. Namun dia bertekad untuk menjalani perannya dengan sabar. Sebab ia berpikir hal tersebut untuk keutuhan rumah tangga.
Karier Gobang naik sangat cepat, sampai akhirnya dia menjabat sebagai manajer keuangan di perusahaannya. Nah, inilah sumber keretakan rumah tangga Gobang dan Siska. Karena jabatan tinggi, Gobang lupa peran Siska sebagai rahasia kesuksesannya.
Gobang berubah sombong, ia tidak lagi menghormati Siska sebagai istri. Setiap kali pulang ke rumah, Gobang minta dilayani layaknya seorang raja. Selain itu, ia juga selalu marah-marah jika melihat rumah dalam keadaan berantakan.
Kesombongan Gobang membuat Siska jengah. Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya terjadi. Pada akhirnya, Siska angkat koper membawa anak-anaknya. Selain pulang ke rumah orangtua, Siska melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama.
Pihak pengadilan mengabulkan gugatan Siska, bersamaan dengan itu pula awal keruntuhan karier Gobang terjadi. Tidak adanya Siska membuat Gobang kocar-kacir untuk melaksanakan tugasnya. Ia akhirnya turun pangkat bahkan dipindahkan ke divisi paling rendah di perusahaannya.
Sementara di sisi lain, Siska yang menjanda melamar ke sebuah perusahaan. Lantaran nilai ijazahnya bagus, ia tidak kesulitan untuk diterima di sebuah perusahaan swasta. “Sekarang saya tinggal dengan ibu, anak-anak ada yang urus. Makanya saya bisa kerja, mudah-mudahan karier saya bisa bagus,” katanya. (Sigit/Radar Banten)










