SERANG – Memasuki peringatan yang ke-51 peringatan Hari Aksara Internasional Indonesia. Cita-cita mengentaskan buta huruf di dunia pun digalakkan oleh berbagai pihak. Walaupun sampai saat ini Indonesia masih dinilai sebagai negara dengan minat baca masyarakat yang relatif rendah.
Hal itu dikatakan Pahala Simanjuntak Kasubid Program dan Evaluasi Kemendikbud RI, di sela-sela kegiatan peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke -51 di halaman Masjid Al Bantani, Rabu (28/9/2016).
“Tuna Aksara itu didominasi lansia yaitu 60 tahun ke atas dan itu kita tidak hitung lagi. Tapi karena masalah ekonomi dan pertimbangan lain yang dialami dari stakeholder dan pemerintah pusat, maka kita batasi. Yaitu pada usia 15-59 tahun. Ada 5,9 Juta orang tuna aksara. 68 persennya berada di 25 kabupaten dan kota. Sementara Banten tidak termasuk. Hanya Jawa Barat, Indaramayu, Brebes, Madura dan kota lainnya,” ujarnya.
Ia mengatakan upaya meningkatkan minat baca di Indonesia sudah digalakkan oleh ratusan Taman Baca Masyarakat (TBM) di berbagai daerah. Pemberantasan buta huruf pun dilakukan oleh para penggerak keberaksaraan. Upaya itu dilakukan sebagai bagian dari kesadaran masyarakat untuk memenuhi salah satu konsep universal Hak Asasi Manusia yaitu pendidikan.
“Banten memang keluar dari zona merah tuna aksara, tapi upaya pemerintah jangan sampai lengah agar pembangunan di Banten lebih cepat dan kami mengimbau agar seluruh kepala daerah untuk menggelorakan gerakan membaca pada masyarakat, serta pemerintah daerah harus memberikan program lanjutan agar TBM-TBM yang sudah terbangun harus diberdayakan dan dilanjutkan. Sehingga keberhasilan menurunkan angka tuna aksara bisa lebih cepat,” ucapnya.
“Kita semua berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama Provinsi Banten mampu membebaskan diri dari tuna aksara. Pemerintah harus komitmen dalam mewujudkan daerah yang berpendidikan. Sehingga masyarakat bisa cerdas dan sejahtera secara ekonomi,” ujarnya. (Ade F)









