SERPONG – Kasus kekerasan terhadap anak menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Kota Tangerang Selatan yang belum terselesaikan. Perlu langkah-langkah pencegahan agar kasus ini bisa diminimalisasi. Caranya dengan melakukan kampanye ke sekolah-sekolah.
Kampanye yang melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perlindungan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMP3AKB), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Ketua P2TP2A Herlina Mustikasari mengatakan, sosialisasi ini digelar upacara bendera. Pihaknya menyebar tim ke beberapa sekolah untuk melakukan penyuluhan secara serentak.
Adapun materi yang disampaikan kepada siswa adalah area tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang asing. Seperti dada, perut, mulut, paha, sekitar kemaluan dan bokong. ”Kita beritahu kepada setiap anak, kalau ada yang menyentuh area itu, langsung hindari. Kemudian laporkan,” katanya, Selasa (8/8).
Herlina mengaku, persoalan kekerasan pada anak adalah persoalan yang tidak akan selesai. Dia menganalogikan gunung es, dimana jika tidak dari akarnya, permasalahan tidak akan pernah selesai.
Di manapun pasti ada kasus seperti ini, segencar apapun kita mengawasi. ”Karenanya, kita masih berusaha untuk meminimalisasi jumlah kekerasan pada anak melalui sosialisasi semacam ini,” imbuhnya.
Ditambahkan, sosialisasi ini tidak akan berhenti meskipun seluruh sekolah di Tangsel sudah disambangi. Makanya program seperti ini tidak hanya sekali atau dua kali tapi harus secara berkala.
Orangtua murid SDN 1 Pamulang Anita Suraya mengatakan, program semacam ini memang harus sering digelar. Anak usia sekolah dasar yang masih belum paham harus sering diingatkan. Selain itu dirinya meminta agar tidak hanya memberikan sosialisasi kepada murid saja melainkan orang tuanya.
”Supaya kita bisa langsung bisa mendeteksi kalau-kalau ada yang aneh sama anak-anak,” imbuhnya. (mg-04/Firdaus/RBG)








