SERANG – Akibat Sungai Cidurian tercemar, sejumlah warga di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, terpaksa harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih, setiap galon, warga harus mengeluarkan uang Rp 2 hingga 3 ribu.
Muhyidin Aljidani, salah satu warga Kecamatan Kresek menjelaskan, sebagian besar masyarakat selama ini bergantung kepada sungai tersebut. Dengan tercemarnya sungai, warga pun tak bisa lagi memanfaatkan air dari sungai yang juga mengaliri sejumlah daerah di Kabupaten Serang tersebut.
“Ada sebagian rumah yang memiliki sumber air bersih dari sumur resapan tapi sebagian besar masyarakat yang tinggal di deretan sungai itu bertumpu pada sungai tersebut sebagai sarana air bersih,” ujar Muhyidin kepada Radar Banten Online, Selasa (29/8).
Berdasarkan keterangan warga, bahkan air sumur warga pun ikut tercemar. Aroma air sumur bau sama seperti air di Sungai Cidurian. “Mungkin karena sumbernya bermuara pada sungai tersebut,” kata Muhyidin.
Dikatakan Muhyidin, wilayah yang terkena dampak dari pencemaran itu bukan hanya di wilayah Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang, tapi juga wilayah Kecamatan Binuang, Kecamatan Carenang dan Kecamatan Tanara di Kabupaten Serang.
“Santri pun terkena dampak akibat tercemarnya sungai, karena selama ini santri bergantung pada sungai,” ujarnya.
Syukriyatul Qodariyah, warga lainnya dengan sangat keberatan karena akibatnya warga harus beli air. “Terpaksa beli air atau numpang ke WC warga lain,” katanya .
Menurut Qodariyah, pencemaran sungai pun berdampak ke PDAM. Air yang disalurkan PDAM ke rumah warga bau, sehingga warga tidak bisa menggunakan air dari PDAM tersebut. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)










