SERANG – Provinsi Banten termasuk daerah yang rawan gempa besar yang dapat memicu tsunami. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan agar Pemprov Banten gencar melakukan sosialisasi dan mitigasi bencana terkait ancaman bencana gempa bumi megathrust itu.
Staf Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Tangerang Dinda Ayu memerinci ancaman gempa di zona megathrust tersebut. Kata dia, wilayah Selat Sunda bagian barat seperti perairan Cilegon, Pandeglang, Anyar, Labuan, dan Lampung masuk dalam wilayah yang rawan gempa.
Gempa di Selat Sunda bagian barat itu ada dua pemicunya, yakni zona megathrust atau pergeseran lempeng Indo Australia dan Gunung Anak Krakatau. “Keduanya saling men-triger (mencetuskan atau memengaruhi-red), kalau Krakatau (Gunung Anak Krakatau-red) beraktivitas retakannya bisa memicu gempa, begitu juga sebaliknya. Jadi, memang Banten harus waspada,” ungkapnya kepada Radar Banten di ruang kerjanya, Selasa (6/8).
Pada prinsipnya semua lempeng selalu bergerak. Begitu juga dengan megathrust. Megathrust juga merupakan bagian dari lempeng di Samudera Hindia yang terus bergerak dan berpotensi mengakibatkan kerusakan besar. “Menurut penelitian Pak Widjo Kongko dari BPPT, potensi gempanya paling besar bisa mencapai 8,9 Skala Richter,” jelas Dinda.
Sementara itu, Kasi Observasi BMKG Kelas 1 Tangerang Afian Rully mengatakan, BMKG bisa menentukan satu lokasi rawan gempa, tetapi tidak bisa mengetahui kapan terjadinya gempa. Ia berharap intensitas gempa-gempa kecil terus terjadi agar meminimalisasi dampak di zona megathrust.
“Kalau ada gempa-gempa kecil nanti kan ada retakan-retakan, dengan begitu diharapkan energi megathrust saat terjadi patahan berkurang,” ungkapnya.
Ia memastikan titik-titik yang rawan gempa selalu dipantau 24 jam dan dari detik ke detik. Pemantauan lebih diutamakan di pusat-pusat titik gempa. BMKG juga menjalin kerja sama untuk mengedukasi permukiman warga yang rawan gempa. “Kami bekerja sama dengan BNPB, jadi mereka buat sosialisasi, kami datang untuk memberikan materi. Kadang ada warga yang tinggal di tebing tetap meninggali rumahnya pascagempa. Padahal kami melihat itu rawan longsor, biasanya kami langsung beritahu untuk meninggalkan rumahnya dulu,” pungkasnya. (den-one/alt/ira)









