Masing-masing lubang dimiliki 10 hingga 20 orang. Mereka awalnya yang menggali lubang tersebut dan menemukan kandungan emas di dalamnya. Proses penggalian lubang dilakukan secara manual. Tidak ada alat berat atau teknologi canggih yang digunakan untuk membuat lubang. Semuanya dilakukan dengan tenaga manusia, menggunakan linggis, alat pahat, cangkul, dan peralatan lain. “Di masing-masing lubang terdapat 80-90 pekerja yang tiap hari menambang emas di Blok Cisoka. Mereka cukup membawa peralatan menambang dan perbekalan untuk makan serta minum,” ungkapnya.
Puluhan pekerja yang menggantungkan hidupnya di lubang tambang mencari urat emas di dalam perut bumi. Dengan bertaruh nyawa, mereka masuk ke dalam lubang untuk mencari bongkahan batu yang mengandung emas. Batu-batu hasil pahatan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Selanjutnya, hasil pahatan dibawa ke atas dan di sana telah menunggu pemilik lubang. “Jika mendapatkan 100 karung batu yang mengandung emas, 60 karung akan diserahkan kepada pemilik lubang. Sementara itu, 40 karungnya dibawa para pekerja untuk diolah menggunakan mesin gelundungan,” jelasnya.
Ditanya terkait berapa hasil menambang dalam setiap harinya, dia menyatakan, hasil menambang tidak menentu. Terkadang jika sedang untung hasilnya per orang bisa mencapai ratusan ribu. Tapi jika sedang apes maka hasilnya hanya puluhan ribu saja atau tidak ada yang bisa di bawa ke rumah. Artinya hanya cukup buat makan dan merokok saja di lokasi tambang. “Tapi rata-rata hasilnya ada. Biasanya, hasil tambang kita subsidi buat beli pupuk agar lahan pertanian menjadi subur,” katanya.
Dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Kepala Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong Tb Imron membenarkan, di wilayahnya terdapat areal pertambangan emas yang menjadi mata pencaharian masyarakat. Aktivitas tambang di Blok Cisoka d TNGHS sudah beroperasi sejak lama, yakni pada tahun 1990-an. Selama ini, tidak pernah terjadi bencana banjir dan longsor yang mengakibatkan kerusakan yang masif di daerah huilir Sungai Ciberang. Untuk itu, dia heran ketika bencana besar yang menerjang wilayah Lebak utara dikaitkan dengan aktivitas penambangan emas di TNGHS. “Sejak tahun 1990-an, aktivitas penambangan emas tanpa izin sudah berlangsung di kawasan TNGHS,” ungkapnya.








