Kegiatan tambang emas di Cisoka sebenarnya telah membantu masyarakat Lebaksitu dan Lebakgedong pada umumnya. Para penambang emas tersebut tidak hanya berasal dari desanya. Tapi juga dari Kecamatan Lebakgedong dan Cipanas. Mereka mengadu nasib di dalam lubang dengan kedalaman puluhan meter. “Jadi, para penambang kerjanya enggak sendiri-sendiri. Mereka berkelompok dan hasilnya dibagi setelah diolah dan dijual kepada pengepul,” jelasnya.
Pada awal 2000-an, Imron mengakui, terjadi perambahan hutan di kawasan TNGHS. Saat itu, masyarakat atau para penambang banyak yang menebang hutan untuk mendukung kegiatan pertambangan emas. Namun, masyarakat Lebaksitu ketika itu bersama TNGHS langsung melakukan penghijauan. Sekarang, kondisi hutan di sekitar areal tambang diklaim sudah hijau kembali dan tidak terjadi kerusakan hutan sama sekali. Bahkan, lokasi pertambangan tidak ada longsor seperti di beberapa lokasi di Lebakgedong. “Masyarakat saya yang menambang di Blok Cisoka hampir 90 persen dari 2.375 kepala keluarga (KK),” ujarnya.
Menurutnya, bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang beberapa kecamatan di Lebak mengundang perhatian besar dari pemerintah dan publik. Presiden Joko Widodo dan beberapa menteri turun langsung ke lapangan untuk melihat dampak banjir bandang dan longsor. Bahkan, tim gabungan dari Markas Besar (Mabes) Polri, Polda Banten, dan Polres Lebak telah ke lokasi tambang untuk melihat langsung kondisi tambang emas di Blok Cisoka. “Tim sudah melihat langsung kondisi tambang di sana dan tidak terjadi longsor di lokasi tambang,” jelasnya.
Namun demikin, Imron akan mematuhi apa pun keputusan dari pemerintah terkait tambang emas di TNGHS. Walaupun dia yakin akan ada keresahan di masyarakat yang biasa mencari kehidupan di sana. Mereka akan kehilangan mata pencaharian yang telah belasan atau bahkan puluhan tahun digeluti. “Saya dan masyarakat hanya pasrah saja dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depan,” ungkapnya.








