LEBAK – Pemkab Lebak terus mengupayakan penanganan akses jalan yang terputus di Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, dan infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang dan longsor. Hingga saat ini, akses jalan menuju Lebaksitu masih terputus sehingga bantuan didistribusikan dengan berjalan kaki dan menggunakan helikopter.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, dua pekan pertama pascabanjir bandang dan longsor, Pemkab Lebak fokus melakukan penyelamatan masyarakat secara maksimal. Kedua, memberikan pemenuhan kebutuhan dasar korban banjir dan longsor seperti makan, minum, pakaian, obat-obatan, pelayanan kesehatan, dan pakaian layak pakai. Ketiga, melakukan upaya penanganan pascabencana dengan melakukan pendataan infrastruktur, korban banjir, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan rumah yang rusak.
“Pada dua minggu pertama itu yang kami lakukan. Tentunya sambil melakukan pendataan terhadap jumlah korban, rumah, dan infrastruktur yang rusak. Intinya, kita ingin semua pengungsi dapat dilayani dengan maksimal,” kata Kaprawi kepada Radar Banten, Rabu (15/1).
Tidak hanya itu, Pemkab Lebak bersama Pemprov, relawan, TNI, dan Polri mengupayakan membuka jalur yang terputus akibat banjir bandang dan longsor. Wilayah yang terisolasi dibantu dengan menggunakan helikopter sehingga bantuan logistik bisa diterima dan dinikmati masyarakat di wilayah tersebut.
“Kita gunakan helikopter TNI, Polri, dan Basarnas untuk memberikan bantuan dan mengevakuasi korban sakit di Cigobang dan Gunungjulang,” paparnya.
Pada pekan ketiga dan keempat, pemerintah mengupayakan membuka akses jalan yang terputus menuju Lebaksitu. Sampai sekarang, akses jalan ke sana masih tertutup material longsor dan sebagian badan jalan terputus. Namun, alat berat terus dioperasikan untuk membuka akses ke sana sehingga masyarakat Lebaksitu yang sekarang terisolasi segera beraktivitas normal kembali.
“Semua kekuatan kita kerahkan untuk membantu pembukaan jalan yang terputus akibat longsor. Karena itu, kita yakin sebelum masa tanggap darurat berakhir, akses ke Lebaksitu bisa terbuka,” jelasnya.
Terkait infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak, Kaprawi menegaskan, Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Lebak telah memerintahkan Menteri PUPR dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membangun kembali jalan, jembatan, dan sekolah yang rusak berat. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial (Kemensos) diinstruksikan melakukan pembangunan rumah warga yang rusak akibat bencana alam tersebut.
“Jadi, infrastruktur yang rusak akan ditangani pemerintah pusat dan provinsi. Karena ada jalan dan jembatan yang menjadi kewenangan Pemprov Banten yang rusak akibat banjir dan longsor,” ungkapnya.
Sementara, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan, jajarannya akan menginventarisasi dan memverifikasi infrastruktur serta rumah yang rusak. Termasuk rumah dan infrastruktur yang masuk dalam wilayah genangan Waduk Karian. Jika bangunan rumah dan lahan warga yang masuk areal genangan belum dibayar pemerintah, maka harus segera dibayarkan agar masyarakat di sana cepat pindah ke lokasi yang baru.
“Kita akan cepat melakukan pendataan dan verifikasi bangunan yang masuk areal genangan Waduk Karian. Kita harap, pemerintah menyelesaikan persoalan pembebasan lahan dan pembayaran bangunan warga yang terdampak pembangunan Waduk Karian,” jelasnya.
Bahkan, Bupati juga meminta tim untuk mencari lahan dengan melibatkan tim geologi untuk hunian sementara (huntara) pengungsi. Nanti skenarionya, ada pengungsi yang tinggal di hunian sementara (huntara) dan ada pula yang diberikan bantuan dana tunggu hunian sebesar Rp500 ribu dari pemerintah pusat. Namun, masyarakat yang menerima DTH dan yang tinggal di huntara akan didata terlebih dahulu agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
“Saya sendiri datangi langsung lokasi banjir. Tiap hari, saya turun ke kampung-kampung untuk memastikan semua pengungsi mendapatkan haknya,” ujar bupati perempuan pertama di Lebak itu.
Terpisah, Kepala Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Tb Imron menginformasikan, akses jalan yang terputus ke wilayahnya kurang lebih dua kilometer. Sekarang, akses jalan yang sudah ditangani baru satu kilometer. Untuk itu, bantuan yang dipasok melalui darat harus dijemput warga ke Ciladaeun dan selanjutnya dibawa dengan cara jalan kaki melalui jalan yang longsor.
“Saya dan masyarakat ingin agar longsor yang menutup jalan segera terbuka. Sekarang kami enggak bisa ke mana-mana,” jelasnya.
Untuk bantuan, Imron menyatakan, bantuan logistik kepada masyarakat Lebaksitu terus mengalir sejak dua pekan lalu. Bantuan dipasok melalui udara dan jalur darat via Kecamatan Sobang. “Kalau bantuan logistik sudah ada. Sekarang tinggal jalannya saja yang masih ditangani dan belum terbuka,” tukasnya. (tur/alt/ira)









