RADARBANTEN.CO.ID-Membahas layanan prostitusi seperti tak pernah ada habisnya. Terlebih, penyedia layanan prostitusi saat ini memanfaatkan aplikasi berbasis online.
Perempuan penyedia layanan prostitusi online kerap mengaku terpaksa melakukan kegiatannya karena himpitan ekonomi. Terlebih, saat pandemi Covid-19 dua tahun melanda.
Mereka rela menjajakan dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari beberapa penelusuran, banyak perempuan menjadikan kegiatannya sebagai side job atau pekerjaan sampingan.
“Baru-baru ini saja. Belum lama. Kerja saya SPG (Sales Promotion Girl) di Kota Cilegon. Tinggal di sini (Kota Serang),” ujar Rianti (bukan nama sebenarnya-red). Ia enggan menyebutkan jenis usahanya karena malu. “Ada aja. Kok, kamu mau tau sih?” timpalnya.
Ia mengaku terpaksa melakukan aktivitasnya sebagai pemuas seks lelaki untuk menambah pemasukan. Pengeluaran harian lebih besar dari pendapatan.
“Lumayan gaji saya. Cuma enggak cukup. Harus penawatan kecantikan. Buat shopping, enggak cukup. Makanya begini. Sudah lah,” terang perempuan berusia 23 tahun itu.
“Malu lah. Mau bagaimana lagi. Kan sama-sama enak, ya kan?” beber perempuan yang memasang tarif Rp1 juta itu.
Tak jauh berbeda dengan Rianti. Desy (bukan nama sebenarnya) mengaku dirinya sebagai Pemandu Lagu (PL) di daerah Serang. Ia mengaku terpaksa melakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya.
“Saya harus membiayai anak saya satu. Sekarang tinggal dengan orang. Iya, saya janda pernah menikah, tapi gagal,” terangnya.
“Saya PL (pemandu lagu-red), karena lagi sepi. Sesekali open BO (booking out) di Mi Chat. Buat nambah-nambah,” bebernya.
Ia mengaku melakukan prakteknya di hotel dan di kos-kosan sesuai pesanan tamu yang mau. “Kalau di kosan Rp500 ribu, di hotel di tambah. Ya hotel daerah sini (Kota Serang),” katanya.
“Kalau saya sudah ketemu jodoh. Saya juga pengen berhenti. Ko, mas jadi tanya-tanya aja, jadi enggak?,” ungkapnya.
Reporter: Fauzan Dardiri
Editor : Agung SP











