SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemprov Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten mengusulkan empat warisan budaya tak benda. Keempat warisan budaya tak benda itu adalah Beluk Saman dari Lebak dan sebagiannya ada di Pandeglang, Gambang Kromong dari Kota Tangerang, Bacang (Bakcang) dari Kota Tangerang, dan Silat Besi dari Kota Tangerang.
Beluk saman yaitu kesenian tradisional yang menggunakan media lagu (vokal) berisi syair-syair yang dilantunkan mengagungkan Asma Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan media gerak. Lagu yang dilantunkan tidak menggunakan suara yang datar tetapi meliuk-liuk tinggi, bahkan melengking sangat tinggi. Pemain beluk saman terdiri atas 15 sampai 25 orang. Para pemain tersebut dikelompokkan ke dalam tiga pembagian tugas, yakni bagian nuskah, bagian tarik suara, dan bagian mulung.
Bagian Nuskah
Bertugas menjadi komando untuk memberi nada dasar dan alur dari pertunjukan beluk saman. Menguasai seluruh alur pertunjukan juga kitab Barjanji, yakni kitab yang berisikan dzikir Maulud berupa syair-syair yang mengagungkan asma Allah SWT dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang terkumpul dalam kitab Barjanji (sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW)
Bagian Tarik Suara
Pemain di bagian tersebut tidak banyak, sekitar 4 sampai 5 orang. Untuk menempati bagian tarik suara, diperlukan kemampuan khusus berupa kemampuan mengeluarkan suara dengan nada-nada tinggi atau melengking
Bagian Mulung
Bagian mulung mengimbangi lengkingan suara tukang beluk dengan saling bersahutan bersama (koor) sebagai alok. Pemain di bagian mulung disebut pamulung.
Pertunjukan seni beluk saman diperlukan sejumlah perlengkapan, yang terdiri atas buku kitab Barjanji, kostum pentas, dan hihid. Para pemain menggunakan pakaian seragam pada saat melakukan pertunjukan yaitu celana pangsi hitam, baju kampret, dodot dengan motif kain batik, ikat kepala batik, dan ikat pinggang dari batik pula. Sebelum melakukan pertunjukan seni beluk saman, para pemain mengadakan ritual salsilah. Ritual itu juga disebut hadorot atau hadiah. Ritualnya adalah berdoa untuk kelancaran pertunjukan mereka. Pola pertunjukan kesenian beluk saman, khususnya pada acara Muludan, dilakukan sehari penuh dengan tiga babakan (episode), yaitu: Babak Dzikir, Babak Asroqol, dan Babak Saman.
Episode pertama
Pada episode ini para pemain menyamakan nada lagu, melakukan perembahan dan perkenalan, berdzikir, berdoa, membacakan puji-pujian, dan salawat kepada Rasul.
Episode kedua
Episode ini dinamakan asroqol yaitu babak yang menonjolkan lengkingan vokal (beluk). Para pemain membentuk formasi berhadapan dengan teknik berdiri dan jongkok silih berganti.
Episode yang ketiga
Para pemain tidak menggunakan hihid lagi, mereka menari dengan menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti alunan suara vokal dan koor.
Tidak ada alat musik yang digunakan ketika pertunjukkan berlangsung, semuanya murni mengandalkan pita suara.
Kesenian ini mulai dipentaskan ke masyarakat sekitar tahun 1963 oleh Bapak Kusen beserta rekan-rekan. Berawal dari acara Maulud Nabi dengan jumlah pemain 30 oransg. Kini, beluk saman berkembang dengan tampil pada acara sunatan, perkawinan, syukuran rumah, acara pembukaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) ditingkat kecamatan ataupun undangan dari beberapa kantor untuk acara hiburan sembari menyiarkan agama Islam. Tentu saja waktunya bisa disesuaikan dengan permintaan pemesan. (adv)











