Sambungannya keturunan Sayidina Khusyain ke Syaidina Ali karomallahu wajhah. Wasaiyyidatina Fatimah Izzahra Binti Rosullullah Alaihi Wassalam.
Lebih lanjut, Saepullah menjelaskan, riwayat hidup Syekh Manshuruddin, merupakan Sultan Banten ketujuh atau Sultan Banten terakhir pada tahun 1672 Masehi. Setelah Sultan Agung Tirtayasa pada tahun 1651 Masehi.
“Sultan Agung Tirtayasa (Sutan Banten Keenam) memberikan jabatan Kesultanan kepada putra pertamanya yaitu pada Syekh Maulana Manshuruddin dijadikan Sultan Banten Ketujuh. Sesudah Syekh Maulana Manshuruddin menjabat kesultanan terus diperintah oleh ramanya atau ayahadanya untuk berangkat ke Makkah Al Musyarrofah untuk menunalkan Ibadah Haji,” katanya.
Sewaktu ditinggalkan kesultanan diwakilkan kepada putra pertamanya yang bernama Sultan Adi Pati Ishaq yang disebut Sultan Abdul Fadii Sultan Banten Kedelapan.
Pada waktu keberangkatan menuju Mekkah Syekh Maulana Manshuruddin diberi wasiat oleh ayahandanya yaitu Sultan Agung Tirtayasa. Wasiatnya Hai anakku dimana kamu selesai lbadah haji mesti langsung pulang lagi ke Banten jangan sampai mampir đi suatu tempat.
“Sesudah selesai ibadah haji terus pulang dari Makkah. Syekh Maulana Manshuruddin sesudah pulang dari Makkah lupa terhadap wasiat dari ayahandanya, jadi dari Jeddah Aerport King Abdul ‘Aj tidak langsung ke Banten jadi mampir dulu di Pulau Manjeti satu pulau di Negeri Tiongkok (Cina),” katanya.
Menurut riwayat bermukim di negeri tersebut selama dua tahun. Hingga menikah dengan salah satu Putri Jin sampai mempunyai satu putra.
Pada waktu Sutan Maulana Marshuruddln di negeri Cina, pemerintah Belanda menipu atau berkata ke Sultan Wakil Adipati Ishag bahwa Sultan Hajl Maulana Manshuruddin tidak akan kembali lagi ke Banten (Pulau Jawa). Sampai Sultan Wakil diangkat jadi Sultan Resmi oleh Pemerintah Belanda jadi Sultan Banten.
Tetapi Sultan Agung Tirtayasa tidak menyetujui terhadap pengangkatan Belanda dan bersikeras harus menunggu kedatangan Sultan Haji Syekh Maulana Manshuruddin dari Makkah.
“Terus banyak pengacau dari pihak Belanda yang memperkuat terhadap Kesultanan Adipati Ishag. Waktu terjadi seperti itu ada tambahan kekacauan, ada yang datang dari kapal mengaku sebagai Sultan Haji Syekh Manshuruddin datang dari Makkah sambil membawa oleh-oleh sebagai tanda bukti dari Makkah. Masyarakat umum langsung percaya bahwa yang datang dari kapal itu Sultan Haji Asli yaitu Syekh Maulana Manshuruddin,” katanya.











