Ia mengungkapkan, masyarakat yang mengonsumsi jamu atau obat tradisional mengandung BKO merasakan efek yang lebih baik. Kondisi tersebut membuat masyarakat akan kembali mengonsumsi jamu atau obat mengandung BKO.
“Yang mengonsumsinya merasa langsung enak ke badan, padahal kita tidak tahu dosis atau takaran BKO yang ada di dalam obat tradisional ataupun jamu tadi,” ungkap Mojaza.
Ia menjelaskan, efek jamu atau obat tradisional yang diracik oleh turun temurun oleh nenek moyang kita tidak memberi dampak instan. Butuh waktu bagi tubuh untuk merasakan manfaatnya. “Jamu itu tidak langsung memberi efek, ada prosesnya,” kata Mojaza.
Mojaza mengatakan, dampak mengonsumsi jamu dan obat tradisional yang mengandung BKO dapat menyebabkan kematian. Salah satu contohnya adalah penggunaan obat kuat bagi pria.
“Kita pernah menonton berita di televisi ada bapak-bapak meninggal di hotel karena mengonsumsi obat kuat, itu salah satu contohnya. Obat kuat (mengandung BKO-red) bisa memicu jantung,” tutur Mojaza. (*)
Reporter: Fahmi
Editor: Agung S Pambudi











