SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebuah lembaga bantuan asal Jerman yakni Aktion Deutschland Hilft (ADRA) melakukan studi terhadap respon kesiapsiagaan darurat bencana di empat daerah di Indonesia. Salah satunya di Provinsi Banten, tepatnya di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang.
Dalam riset itu, ADRA meneliti tentang bagaimana respon dari pemerintah daerah dan stakeholder terkait mengenai status siaga darurat bencana di empat kabupaten, yaitu Kupang (NTT), Bima (NTB), Sigi (Sulawesi Tengah) dan Pandeglang (Banten).
Empat wilayah kabupaten yang menjadi lokasi studi karena dikenal sebagai wilayah yang rawan terhadap bencana. Studi ini mencakup pemahaman mendalam tentang inisiatif dan program-program yang telah diterapkan di empat wilayah kabupaten untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, instansi pemerintah, dan lembaga kemanusiaan.
Sri Wahyuni, koordinator tim studi di Banten mengatakan, hasil studi dokumentasi ini menggambarkan sejumlah temuan di antaranya fakta bahwa Kabupaten Pandeglang tidak respon terhadap peringatan siaga bencana.
Peringatan siaga bencana ini sendiri biasanya dikeluarkan oleh lembaga resmi seperti BPBD dan BMKG mengenai potensi terjadinya bencana disuatu daerah.
“Berdasarkan hasil studi, kami mendapatkan informasi bahwa respon dari siaga darurat itu masih minim. Pemerintah Kabupaten Pandeglang cenderung kurang respon terhadap status siaga darurat ini,” ujar Sri saat ditemui dalam acara diseminasi studi dokumentasi tentang pembelajaran dan praktek baik respons kesiapsiagaan darurat di empat Provinsi, bertempat di Teras Meeting, jalan Ciwaru Raya II No. 73, Cipare, Kota Serang, Banten pada Kamis, 18 Januari 2024.
Dalam studinya, ADRA mengungkap fakta bahwa Pemda di Pandeglang sebetulnya sudah menerima peringatan dini mengenai potensi bencana di Kecamatan Patia yang jadi lotus studi ADRA di Banten.
Namun, peringatan dini itu cenderung tidak diacuhkan. Padahal, Pemda bisa melakukan berbagai langkah antisipatif dalam mencegah bencana alam di lokasi yang terkenal kerap menjadi langganan bencana banjir itu.
“Sebetulnya Pemda itu sudah punya dokumen rencana penanganan banjir disana, yang ditandatangani oleh Bupati Pandeglang. Namun pada faktanya, aksi yang dirancang untuk mengantisipasi banjir di lokasi itu masih tidak ada,” ucapnya.
Akibat minimnya respon, banyak warga yang menjadi korban bencana banjir. Pihaknya pun memberikan beberapa rekomendasi hasil studi kepada Pemda Pandeglang salah satunya yakni penguatan aksi terhadap rencana antisipasi siaga darurat bencana.
Melalui kegiatan diseminasi hasil studi dokumentasi ini, diharapkan dapat membangun pemahaman bersama tentang praktik baik yang dapat diadopsi dan disesuaikan di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat masyarakat hingga kebijakan pemerintah.
“Diseminasi ini juga diarahkan untuk memotivasi kolaborasi lebih lanjut, pertukaran informasi, dan pembentukan strategi yang lebih efektif dalam memitigasi risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan darurat di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengapresiasi hasil studi dari ADRA ini. Hasil studi ini akan menjadi catatan bagi pihaknya dalam melakukan mitigasi dan penanganan bencana.
“Kami sampaikan terima kasih kepada penyelenggara yang mana hasil studi ini akan menjadi bahn evaluasi atau masukan atau tanggapan terhadap penanganan bencana di Provinsi Banten, sehingga kita bisa meminimalisir dampak kerusakan jika terjadi bencana,” pungkasnya.
Editor : Merwanda











