SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 54 warga Kota Serang tercatat terjangkit demam berdarah dengue (DBD) sejak awal tahun 2024.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring penyisiran maupun pendataan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Serang.
Kepala Dinkes Kota Serang Ahmad Hasanudin mengaku, setidaknya terdapat 54 warga Kota Serang yang tersebar di enam Kecamatan tengah mendapatkan perawatan intensif akibat terkena DBD.
Dari 54 warga tersebut, didominasi oleh orang dewasa, dan kini sudah menunjukkan hasil yang membaik.
“Totalnya yang dirawat di rumah sakit (RSUD) Kota Serang itu ada 54 kasus yang terkena DBD. Bahkan, mungkin bisa lebih. Karena data itu cuma ada di RSUD saja, kami belum melihat yang ada di lingkungan warga,” ujarnya, Rabu 28 Februari 2024
Hasan meminta, agar seluruh Kepala Puskesmas di Kota Serang dapat melakukan penyisiran dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar turut menanggulangi nyamuk jenis aedes aegipty penyebab DBD. Salah satunya dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan rumah.
“Saya sudah meminta seluruh kepala puskesmas untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar menanggulangi pemberantasan sarang nyamuk dan abatesasi. Pihak puskesmas itu harus membagikan abate ke masyarakat,” katanya.
Hasan menjelaskan, fogging bukan satu-satunya cara untuk memberantas sarang nyamuk, dan mencegah DBD. Karena itu, persoalan DBD dikatakan dia, merupakan tanggung jawab bersama, khususnya masyarakat agar tetap menjaga lingkungannya yang bersih dan meminimalisir adanya genangan.
“Karena fogging itu bukan cara satu-satunya untuk memberantas DBD, justru asapnya pun cukup berbahaya. DBD menjadi persoalan bersama, termasuk masyarakat dalam pemberantasannya. Kalau masyarakat belum melakukan PSN, kasus DBD bisa bertambah,” ucapnya.
Kendati demikian, pihaknya meminta agar masyarakat tidak panik ketika anak atau keluarganya terkena demam, sebab hal itu belum bisa dipastikan terkena DBD.
“Karena badan panas atau demam itu tidak melulu karena DBD, bisa juga penyakit lainnya. Jadi, lebih baik diperiksakan daripada mendiagnosis sendiri,” tuturnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











