SERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Ada pemandangan yang mengharukan pada acara halalbihalal warga Neglasari, Kota Serang.
Sudah puluhan tahun berpisah, lalu dipertemukan di Cafe 89 Sayar, Kota Serang, Sabtu, 20 April 2024, dalam sebuah acara halalbihalal temu kangen ‘Batur Cilik Mengan, Neglasari Punya Cerita. Acaranya diisi dengan doa dan makan bersama, doorpize dan hiburan musik.
Ketika bertemu, saling tegur sapa. Namun sudah lupa nama. Akhirnya berkenalan lagi sambil mengingat-ingat dan mengungkapkan memori masa bocil.
Seperti Sri, perempuan berusia lima puluhan tahunan ini lupa siapa nama teman semasa kecilnya saat disapa. Setelah disebut nama orang tuanya dan pernah bertetanggaan, Sri baru ingat.
Dia adalah Budi. Dulu, rumahnya saling membelakangi di Neglasari.
Keduanya akhirnya guyon sambil mengungkit masa-masa kecil.
Lalu bercerita tempat tinggal saat ini dan keluarganya.
“Udah lama banget ya gak ketemu. Saya dah punya cucu dua lho,” ungkap Sri kepada Budi.
Sri kini menetap di Bekasi. Ia jarang pulang ke kampung halamannya di Neglasari karena orang tuanya sudah tiada.
Rahmatullah, ketua halalbihalal, sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan teman-temannya.
Ia juga mengaku ada yang lupa dengan nama rekannya yang hadir. Padahal ketika tinggal di Neglasari bertetanggaan.
“Dulu buka pintu rumah saja sudah kelihatan rumahnya dan kelihatan orangnya,” ungkap Rahmatullah.
Lebih dari tiga puluh tahun berpisah, di acara halal bihalal temu kangen ini dipersatukan kembali. Bertemu dan mengenal lagi dengan membawa sejuta kenangan.
“Dulu bersama orang tua tinggal di Neglasari, sekarang saya tinggal di Bukit Permai, Ciracas. Kami yang hadir di sini dulunya sekampung semua, sekarang sudah pisah-pisah,” ungkap Rahmatullah.
Yang hadir di acara halal bihalal, kata Rahmatullah, teman sekampung, teman masa kecil. Rata-rata lahir di era tahun 60-an dan 70-an yang kini menetap dan berumah tangga di berbagai daerah, termasuk yang di luar Pulau Jawa.
Di momen temu kangen batur cilik, semuanya melepas rindu. Mengenang memori masa kecil.
Seperti Endad, yang kini tinggal , di Sepang Cibarang, Kota Serang. Ketika bertemu Sri, ia mengungkapkan kenangan masa-masa kecil dan keluguan saat bermain.
“Kita membuat acara ini untuk bersilaturahmi karena sudah lama tak bertemu,” ungkap Endad.
Berkat teknologi informasi dan media sosial, kata Endad, panitia acara terbantu untuk mencari nomor kontak dan menghubungi rekan-rekannya supaya hadir di acara halal bihalal.
Kata Endad, salah satu yang saat ini dituakan dan masih tinggal di Neglasari yaitu Hj Nunung.
“Ya, saya masih tinggal di Neglasari, kalau temen-teman yang lain sudah menyebar semua,” ungkap Nunung.
Pada acara halal bihalal yang pertama ini, kata Nunung, yang hadir adalah generasi kedua dan ketiga. Orang tuanya yang pertama kali menetap di Neglasari sudah tiada.
“Kami usianya rata-rata sudah di atas 50 tahunan. Waktu kecil tinggal bersama orang tua di Neglasari. Sekarang sudah pada berpencar,” ungkap Nunung.
Halal bihalal temu kangen ini, kata Nunung, khusus bagi warga yang masa kecilnya tinggal di Neglasari.
“Neglasari-nya kalau sekarang ini RW 13, ada 6 RT,” ungkap Nunung.
Era tahun 60-an, Neglasari adalah sebuah permukiman baru, yang dulunya masuk kawasan Kampung Kubang. “Kampungnya para pendatang. Orang tua saya bangun rumah tahun 67-an,” ungkap Nunung.
Rahmatullah menambahkan, awalnya sebuah hamparan atau kebun yang kemudian dihuni oleh para pendatang yang heterogen dan kemudian dikenal dengan Kampung Neglasari.
“Melalui halal bihalal ini kami bisa bersatu kembali. Ini acara yang pertama, mudah-mudahan bisa diadakan lagi,” ungkapnya.
Editor: Aas Arbi











