CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, kehangatan dan haru menyelimuti pertemuan keluarga besar alumni Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at.
Mereka bukan sekadar datang untuk bersilaturahmi saat momen Idul Fitri 1446 Hijriah, tapi juga untuk merawat kenangan dan meneruskan warisan kebaikan dari sosok yang mereka anggap sebagai ayah, guru, dan penolong, yakni almarhum Tubagus Aat Syafa’at.
Didirikan pada tahun 2010, Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at bukan hanya menjadi tempat tinggal bagi anak-anak yatim dan piatu.
Lebih dari itu, pondok ini menjadi rumah, sekolah kehidupan, dan tempat tumbuhnya harapan baru bagi mereka yang nyaris kehilangan masa depan.
Sosok pendirinya, almarhum Tubagus Aat Syafa’at, bersama istrinya, Hj. Sumarliyah, telah menanamkan nilai cinta, tanggung jawab, dan pendidikan dalam kehidupan para santrinya.
“Kami tidak hanya dibantu untuk bisa sekolah, tapi juga diberi keluarga,” ujar Ahmad Haryani, Ketua Alumni Pondok Daarus Syafa’at, saat melakukan kunjungan di kediaman mendiang mantan Walikota Cilegon, Tubagus Aat Syafa’at, pada Kamis, 3 April 2025.
Ia menegaskan bahwa pertemuan ini adalah bentuk rasa syukur dan pengingat akan kebaikan yang telah mereka terima dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, bahkan sampai ke luar negeri.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Rima, alumni pondok yang kini telah menyelesaikan studi S1 di Kairo, Mesir.
“Saya tidak akan pernah sampai ke Mesir tanpa bantuan keluarga besar Abah Aat Syafa’at. Beliau bukan hanya membiayai, tapi membimbing kami sampai benar-benar siap. Ilmu ini akan saya kembalikan kepada adik-adik di pondok,” ungkapnya.
Hj. Sumarliyah, istri dari almarhum Tubagus Aat Syafa’at, menerima kehadiran para alumni dengan mata berbinar dan hati senang.
“Mereka ini sudah seperti anak-anak saya sendiri. Kami bangga karena mereka tidak melupakan asal mereka, dan terus membawa nilai-nilai pondok ke mana pun mereka melangkah,” katanya haru.
Pondok Yatim Piatu Daarus Syafa’at lahir dari keprihatinan dan cita-cita besar Tubagus Aat Syafa’at agar anak-anak yatim piatu di Cilegon bisa mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak.
Semangat itu tidak terlepas dari rekam jejak almarhum yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa selama 18 tahun, anggota DPRD Kabupaten Serang, hingga menjadi Wali Kota Cilegon selama dua periode.
Kini, meski Tubagus Aat Syafa’at telah tiada, warisan kebaikannya terus tumbuh dalam hati para alumni dan para santri baru yang menempuh jejak yang sama.
Daarus Syafa’at bukan sekadar nama pondok. Ia adalah simbol harapan, kasih, dan tekad untuk terus berbagi dan menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa.
Dan di setiap pertemuan seperti ini, warisan itu terasa nyata. Hidup dalam senyum, dalam pelukan, dan dalam kisah-kisah yang terus mereka lanjutkan.
Editor: Agus Priwandono











