LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan Serum Anti Bisa Ular (ABU) pada tahun 2025. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kasus gigitan ular berbisa yang kerap terjadi di wilayah pedesaan dan pelosok hutan.
Diketahui pada tahun 2024 lalu, jumlah korban gigitan ular mencapai 844 kasus. Dalam mengatasi kasus tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak melalui Dinkes akan menganggarkan 400 serum ABU. Langkah tersebut dilakukan Dinkes mengatasi banyak kasus yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
“Kami siapakan 400 vial ABU nanti masih dibahas dalam anggaran Perubahan. Satu serum harga nya Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta,” kata Budhi Mulyanto Kepala Dinkes ditemui Radar Banten di Pendopo Bupati Lebak, Selasa 8 April 2025.
Namun anggaran tersebut akan dibahas dan yang pasti Pemkab Lebak akan mennyiapkan ratusan serum ABU untuk mengatasi maraknya kasus gigitan ular berbisa.
“Serum tersebut nanti tergantung dari Biofarma akan berapa yang tesedia. Jadi kita belum tahu apakah yang di ACC 300-400 serum oleh Biofarma selaku penyedia karena harus menunggu enam bulan,” tuturnya.
Diketahui serum ABU sangat dibutuhkan, terutama di wilayah dengan potensi tinggi kasus gigitan ular seperti Kecamatan Leuwidamar, Cipanas, Sajira, Cigemblong dan daerah lainnya.
Budhi memberikan imbauan agar, para warga untuk menggunakan sepatu bot agar terhindar dari gigitan ular berbisa. “Imbauannya agar selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah kaya rumput jangan terlalu tinggi. Dan gunakan sepatu boat saat berkebun atau ke sawah,” terangnya.
Sementara itu, warga Leuwidamar Wildan mengaku prihatin dan berharap pemerintah serius memperhatikan persoalan ini. “Di kampung saya, kejadian orang digigit ular itu bukan hal langka. Tapi kadang-kadang kalau dibawa ke Puskesmas, serumnya nggak tersedia. Harus ke kota, itu pun belum tentu ada,” ujar Wildan.
Wildan menilai upaya pengadaan serum ABU oleh Dinas Kesehatan Lebak adalah langkah yang tepat, namun harus dibarengi dengan pemerataan distribusi dan kesiapan petugas di lapangan.
“Harapan kami serum itu bukan cuma ada di rumah sakit besar. Puskesmas yang jauh dari kota juga harus punya, karena waktu itu sangat penting kalau sudah digigit ular berbisa,” tambahnya.
Editor: Abdul Rozak











