SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Keluarga korban pembunuhan dan mutilasi Siti Amelia, warga Kampung Cikuray Kedondong, Desa Ranca Sanggal, Kecamatan Cinangka meminta agar proses hukum yang sedang dijalani bisa ditegakkan seadil-adilnya.
Bahkan keluarga korban mendesak agar pelaku dapat dihukum seberat-beratnya yakni dijatuhi hukuman mati. Pasalnya, pihak keluarga menilai jika tindakan yang dilakukan pelaku sangat keji dan sudah terencana.
Ayah korban, Mastura, menceritakan saat ketika waktu sebelum kejadian naas tersebut terjadi. Pada Minggu 13 April 2025, Siti tengah berada di rumah Kakek nya yang berada di Kampung Palingping, Kecamatan Padarincang.
Saat itu, Siti dijemput oleh Mulyana, pria yang sudah dikenalnya lebih dari satu tahun dan sempat menjalin hubungan asmara. Saat itu, Siti izin ke keluarga untuk pergi ke pasar membeli bakso sekaligus ingin melayat.
“Hari Minggu itu ada yang meninggal, anak saya izin melayat ke sana setelah zuhur. Saat itu dari cerita bibi dan kakek, Siti dijemput oleh Mulyana,” katanya saat ditemui di kediamannya, Selasa 22 April 2025.
Kenangan itu pun menjadi kali terakhir bagi keluarga bertemu dengan Siti. Setelah pergi dengan Mulyana, Siti tidak pernah kembali. Keluarga pun sempat merasa khawatir ketika selepas magrib Siti tak kembali.
Gelagat yang tak biasa itu sontak menjadi kekhawatiran bagi keluarga. Pasalnya, nomor telepon Siti tidak bisa dihubungi. “Keluarga sempat mencoba berpikir positif, mungkin karena hujan makanya belum bisa pulang,” gumamnya.
Jam demi jam pun berlalu, tanpa ada kabar dari sang buah hati. Suasana hati Mastura pun kian berkecamuk karena tak kunjung mendapatkan kabar. Bahkan, hingga larut malam, tak ada tanda-tanda Siti akan pulang. Malah itu pun menjadi malam sangat panjang dan menguras emosi.
“Ternyata sudah tunggu-tunggu sampai jam 12 sampai jam 2 enggak pulang. Dari situ firasat buruk mulai datang,” katanya dengan suara lirih.
Paginya, keluarga kemudian berinisiatif untuk mencari. Tempat pertama yang didatangi ialah kediaman orang yang terakhir kali bersama Siti, yakni rumah Mulyana. Saat ditemui, dengan tenangnya Mulyana mengaku tidak tahu atas hilangnya Siti.
Bahkan ia beralibi, kepergiannya sore itu bersama Siti hanya sebatas untuk mengantarkan Siti saja pergi ke Pasar Padarincang hanya untuk mengantar Siti bertemu dengan tiga orang temannya.
“Karena sudah tau yang terakhir bertemu si Iyan, makanya saya dan istri langsung datang ke rumahnya. Tau rumahnya karena dulu istri dan Siti pernah kondangan ke rumahnya. Saat itu Iyan ngaku menjemput Siti, namun dia mengaku hanya mengantarkan Siti bertemu dengan 3 orang temannya di pasar 2 orang perempuan non muslim dan satu orang laki-laki,” ujarnya.
Dengan penjelasannya yang tenang dan meyakinkan, pihak keluarga pun sempat tidak menaruh curiga pada Iyan. Namun karena ada hal yang dirasa masih janggal dan menjadi pertanyaan besar bagi keluarga, mereka pun memutuskan untuk kembali menghubungi iyan.
“Karena penasaran, saya telpon lagi terus didatangi ke sana lagi. Saat ditanya lagi terkait kronologinya ternyata keterangannya berbeda. Makanya sejak saat itu kita menduga ada kejanggalan,” ujarnya.
Di hari berikutnya, Selasa 15 April 2025, Mastura kemudian kembali menelpon. Kali ini, ia meminta Mulyana dan keluarganya untuk datang ke kediaman kakek korban untuk membahas terkait hilangnya Siti. Kala itu, keluarga pelaku dan Mulyana pun datang dan berjanji akan membantu pencarian Siti.
“Namun setelah musyawarah, tidak ada informasi sama sekali dari pihak keluarga pelaku, sehingga menimbulkan pertanyaan bagi kami. Padahal nomor HP ada cuman ga mengabari,” ujarnya.
Hal itu membuat pihak keluarga semakin mencurigai Mulyana. Di hari Jumat, mereka pun kemudian berinisiatif untuk datang ker rumah Mulyana untuk mencari keberadaan Siti di sekitar kediamannya. Namun Mulyana pun masih mengelak.
Tak lama berselang, pihak keluarga pun mendapatkan kabar terkait adanya penemuan mayat yang di Kecamatan Gunung Sari. Firasat buruk pun kian kuta dan menyelimuti hati keluarga yang mencari. Mereka pun kemudian langsung datang ke lokasi penemuan potongan tubuh. “Sampai sana Jenazah sudah rapi sudah dimasukan ke dalam tas,” ujarnya.
Bak tersambar petir di siang bolong, kabar penemuan mayat itupun memberikan duka mendalam. Pencarian panjangnya selama berhari-hari justru membawa mereka pada fakta yang menyakitkan bahwa keluarga mereka ternyata sudah tiada.
Tak ada lagi wajah ceria yang menjadi obat lelah Mastura dikala lelah sepulang bekerja. Kini putri ke duanya telah tiada, meregang nyawa di tangan pria bernama Mulyana.
Pihak keluarga pun menuntut keadilan. Mereka meminta pihak kepolisian untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya. Pihak keluarga menginginkan hukuman yang setimpal, yakni hukuman mati.
Tuntutan itu bukan tidak berdasar, pasalnya tindakan yang dilakukan oleh Mulyana sangat keji dan menerobos batas-batas kemanusiaan. Pihak keluarga bahkan yakin bahwa tindakan penghilangan nyawa yang dilakukan oleh Mulyana telah terencana sebelumnya.
“Tindakan yang dilakukan keji, semoga kepolisian bisa menegakan hukum sesuai yang dia lakukan. Ini kan negara hukum, harus dijalankan seadil-adilnya, harus ditegakkan. Kalau ini dibiarkan tidak ditindak tegas yang lain gimana? Dia sudah membunuh, memfitnah,” ujarnya.
Pihak keluarga ingin agar penegakan hukum yang dilakukan menjadi efek jera dan contoh penegakan hukum. Agar nantinya tidak ada Mulyana-Mulyana lain yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan.
“Kalau ini dibiarkan. Enggak diusut tuntas tidak dihukum mati bagaimana? Khawatir nanti terjadi lagi kasus serupa. Jangan sampai terjadi lagi, cukup anak saya, cukup anak saya,” pungkasnya.
Editor : Aas Arbi











