CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Gonjang-ganjing dan saling lempar kritik antara Fraksi Gerindra dan Fraksi Golkar di tubuh DPRD Kota Cilegon mendapat sorotan dari akademisi.
Pengamat Ekonomi Politik Banten yang juga Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Syaiful Bahri, menilai bahwa dinamika antarfraksi di DPRD Cilegon merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat dengan catatan, kritik harus disampaikan secara objektif dan berbasis data.
“Kalau Gerindra banyak mengkritik, itu hal yang wajar karena mereka punya incumbent pada pelaksanaan Pilkada kemarin. Sementara Golkar tidak mungkin dong mengkritik kadernya sendiri,pasti membela,” kata Syaiful saat diwawancarai Radar Banten, Selasa 29 April 2025.
Menurutnya, sistem pemerintahan yang sehat memerlukan check and balance yang objektif dan proporsional. Kritik tidak seharusnya dilandasi oleh rasa suka atau tidak suka.
“Kritik itu harus by data. Kalau tidak objektif, justru akan kontraproduktif. Kalau tidak berdasar data, bisa masuk ke ranah kebohongan publik. Padahal, kritik yang konstruktif itu justru menyehatkan pemerintahan,” ujarnya.
Syaiful juga menekankan bahwa kritik tidak boleh disamakan dengan konflik. Dalam konteks Kota Cilegon yang dikenal dengan nilai-nilai kekeluargaan, pendekatan dialogis dan harmonis harus meminimalka
“Cilegon itu akur, sedulur. Kalau bisa meminimalkan konflik, kenapa harus konflik? Kritik bukan berarti musuh. Justru kritik yang baik itu harus dihargai,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi sikap Wali Kota Cilegon Robinsar Fajar yang dinilainya terbuka terhadap masukan, bahkan saat dikritik langsung oleh warga.
“Pak Wali Kota tidak klaim semua capaian adalah hasil kerjanya. Beliau tahu baru beberapa bulan menjabat dan itu diakui. Ini bentuk keteladanan kepemimpinan yang patut diapresiasi. Tidak banyak pemimpin yang bersikap seperti itu,” ungkap Syaiful.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa semua pihak, termasuk akademisi, harus mampu bersikap objektif dalam membaca situasi politik lokal.
“Sebagai akademisi, kita harus menjaga objektivitas. Jangan terjebak dalam arus politik praktis yang penuh kepentingan,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











